Teguhkanlah Kepribadianmu!

11892271_10206248510348835_1050460724807299061_n

Meski telah terlewat tepat satu hari dari momen bulan Syawwal, namun kesempatan silaturrahim tetap harus berjalan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DIY bersama perwakilan dari masing-masing pimpinan cabang IMM se–DIY pada 16 Agustus 2015 atau 1 Dzulqo’idah 1436 H untuk saling berbagi rasa, karsa, dan karya dengan para pioneer dan penggerak IMM di masa awal berdirinya. Kegiatan ini diselenggarakan di rumah Bapak Agus Syamsudin, mantan Ketua Umum DPP IMM. Kader dan alumni dipertemukan dengan tokoh besar dan berjasa dalam sejarah perjuangan organisasi otonom khusus mahasiswa ini. Beliau adalah Bapak Rosyad Sholeh, Buya Yunahar Ilyas, Bapak Anhar Anshori, dan Bunda Elida Djazman (istri dari almarhun Buya Djazman Al-Kindi, pendiri IMM). Pertemuan ini juga dihadiri alumni sekaligus Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah, Asep Purnama Bachtiar yang juga memberikan sambutan sekaligus diharapkan dapat menindaklanjuti aspirasi baik dari para pendiri, alumni, maupun kader IMM sendiri.

11909796_10206258043827166_1676050733_n 11880796_10206258043667162_1320173441_n 11880796_10206258043507158_1494317035_n 11911468_10206258043307153_77824749_n 11913079_10206258043227151_1103082425_n

Karena dalam waktu yang singkat, tidak banyak nasihat yang disampaikan oleh tokoh-tokoh besar Muhammadiyah ini, namun Bapak Rosyad Sholeh dengan semangatnya menegaskan kembali bahwa IMM adalah gerakan berbasis masyarakat yang lahir dari pengajian khusus mahasiswa dan diharapakan dapat terus berkarya untuk kesejahteraan masyarakat. Perjuangan dan pengabdian IMM harus berkesinambungan dan berkelanjutan sebagaimana telah diteladankan oleh alumni IMM yang dengan istiqomah berkhidmat di Muhammadiyah dan kini duduk dalam jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mereka adalah Prof. Yunahar Ilyas, Dr. Abdul Mu’ti, Dahlan Rais, dan Anwar Abbas.

Kader IMM juga harus dapat membuktikan dirinya dan melanjutkan perjuangannya di kancah perjuangan Muhammadiyah selepas pengabdiannya di IMM. Jangan sampai menjadi kader biren (bar rabi leren) yang artinya selepas menikah kemudian berhenti sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Anhar Anshari, kader perantauan dari tanah Medan yang mengawali perjuangannya di IMM Jogjakarta. Perjuangan dalam kebaikan haruslah berkesinambungan dimulai dari sekarang untuk Indonesia berkemajuan sebagaimana disebutkan dalan AL-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104, yad’uuna ilal khair (mengajak kepada kebaikan) yang menggunakan fi’il mudhari’ bermakna kini (zamanul khal), masa depan (zamaanul mustaqbal), dan terus menerus (zamaanul istimraar). Beliau menambahkan bahwa intrik politik akan selalu ada dan dibutuhkan, akan tetapi IMM sebagai pergerakan mahasiswa jangan sampai terjebak atau bahkan menyimpang dari tujuannya berdiri yang mengacu pada triloginya yakni Religius, Intelektual, dan Humanis. “Jangan sampai IMM menjadi korban politik!” tegas beliau.

11910898_10206258044427181_2127075016_n 11911431_10206258044227176_872349892_n 11910799_10206258043987170_496470346_n 11897080_10206258043947169_2022563844_n

Disinggung pula “persoalan” kelahiran IMM yang kemudian diberikan bukti otentik yang dibawa oleh Bunda Elida Djasman. Sebuah dokumen foto dan tulisan tangan Presiden Soekarno berisi sebuah restu atas berdirinya IMM. Dokumen tersebut sekaligus menguatkan dan menekankan bahwa IMM berdiri tidak lain karena tiga alasan, yaitu (1) kebutuhan untuk mempersiapkan perjuangan Muhammadiyah, (2) wadah kelanjutan pelajar Muhammadiyah, dan (3) mewadahi mahasiswa Muhammadiyah di seluruh perguruan tinggi.

11880349_941419819250419_5684969055417116234_n

Pertemuan yang terselenggara pada 16 Agustus 2015 ini juga dihadiri langsung oleh anggota PP Muhammadiyah terpilih periode 2015-2020, Prof. Yunahar Ilyas. Beliau menyampaikan kebanggaannya menjadi bagian dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Beliau membagikan pengalaman dan pesan penting bahwa gerak IMM harus menggembirakan, menyediakan apa yang dibutuhkan oleh kader sehingga kader merasa membutuhkan IMM.

11909781_10206258043427156_451578546_n 11911468_10206258043307153_77824749_n 11900896_10206258043107148_1263760323_o

Wahai Kader IMM, teruslah berjuang dengan memegang teguh kepribadianmu di mana ketika berdirimu tidak ada satupun organisasi mahasiswa yang berani menyatakan kepribadiannya! Cendekiawan berpribadi, susila, cakap, dan takwa kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Jaya IMM!

Fastabiqul Khairat!

IMMawati Ardita Markhatus Solekhah, S. Pd.

Ketua Bidang Kader PC IMM Bulaksumur-Karangmalang (UNY-UGM)

Guru SD Muhammadiyah Bausasran I

Muktamar Muhammadiyah ke-47: Tantangan dan Harapan

logo muktamar

Pada tanggal 3-7 Agustus 2015 nanti, Persyarikatan Muhammadiyah akan melangsungkan Muktamar ke-47 di Makassar, Sulawesi Selatan. Muktamar akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo di lapangan Karebosi, Makassar, pada tanggal 3 Agustus 2015. Diperkirakan lebih dari 10.000 muktamirin akan meramaikan Muktamar yang diadakan lima tahunan ini.  Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi pimpinan pusat untuk mengevaluasi dan merumuskan program Muhammadiyah ke depan. Tidak kalah pentingnya, yakni pemilihan tim formatur yang beranggotakan 13 orang untuk menentukan siapa yang menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sesuai aturan yang berlaku, Prof. Din Syamsuddin yang sudah menjadi Ketua Umum dalam dua periode, tidak boleh mencalonkan maupun dicalonkan kembali, maka Muktamar kali ini akan melahirkan Ketua Umum baru. Prof. Din Syamsuddin terbilang berhasil membawa Muhammadiyah dari tahun 2005-2015. Terbukti dari peran beliau di kancah internasional dalam isu perdamaian, dialog antaragama, multikulturalisme, dan rekonsiliasi konflik. Pada tingkat nasional, Muhammadiyah mampu menjadi motor penggerak “Jihad Konstitusi”, karena dengan gerakan inilah mampu memotong akar permasalahan bangsa dari tingkat hulu. Gerakan ini beberapa kali sukses menggugat perundangan dan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.

Muktamar Muhammadiyah ke-47 ini mengusung tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema yang digagas merupakan komitmen Muhammadiyah untuk ikut serta memajukan Indonesia dengan sentuhan Islam melalui gerakan amar ma’ruf nahi munkar dengan mengusung tagline “Islam Berkemajuan”. Tema ini juga dilatarbelakangi pemikiran bahwa Islam memiliki watak universal. Permasalahan yang diatasi tidak hanya bernuansa lokal, tapi lebih ke arah yang lebih luas.  Peran dan komitmen Muhammadiyah selama 100 tahun lebih tidak perlu diragukan lagi, karena Muhammadiyah juga ikut andil dalam pembentukan negara yang kita cintai ini. Muhammadiyah pada abad kedua ini, akan terus berkomitmen penuh untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan ini merupakan aktualisasi Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan, baik berbangsa dan bernegara maupun berislam yang rahmatan lil alamin.

Perjuangan Muhammadiyah dalam mengisi abad kedua ini memang tidak akan mudah. Sama halnya dulu ketika di awal-awal tahun berdiri, Muhammadiyah mengalami berbagai hambatan dan tantangan, namun semua itu dapat dihadapi dengan penuh perjuangan baik itu berupa jalur diplomasi maupun politik. Saat reformasi terjadi, Muhammadiyah dapat mengepakkan sayap selebar-lebarnya, terbukti dengan berdirinya bebagai amal usaha Muhammadiyah di berbagai pelosok negeri, setiap tahun selalu tumbuh dan berkembang. Muhammadiyah memasuki abad kedua akan dihadapkan pada tantangan baru yang harus segera direspons dan dicari solusi yang tepat. Tantangan baru itu melingkupi aspek kehidupan umat Islam, bangsa-negara, dan dunia kemanusiaan yang semakin kompleks.

Tantangan Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam melakukan gerakannya pastinya akan menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik yang tengah melanda masyarakat. Dalam kaitannya dengan politik, Muhammadiyah memang tidak didesain untuk berpolitik. Tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan agaknya memang tidak begitu mempercayai politik sebagai alat perjuangan. Meskipun demikian, Muhammadiyah dalam rekam jejaknya tidak antipolitik. Buya Syafii Maarif, dalam tulisannya di kolom Resonansi Republika yang berjudul Siapa Pemimpin Muhammadiyah 2015-2020?, memberikan saran agar Muhammadiyah harus terjun ke gelanggang kebangsaan dengan menyiapkan para kadernya yang berkualitas tinggi untuk ambil peran utama dalam proses perbaikan bangsa dan negara agar terhindar dari kegagalan. Kegaduhan politik di Indonesia yang akhir-akhir ini diperlihatkan oleh para elit merupakan akar masalah dari pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah dan ketidakadilan sosial masih saja terjadi, puncaknya yaitu terjadi konflik. Kedua, Arus sekularisme-materialisme yang juga melanda dunia menjadi tantangan besar bagi warga Muhammadiyah. Pada era globalisasi seperti saat ini, Indonesia mau tidak mau harus masuk ke dalam arus tersebut, namun dengan catatan tidak boleh terseret oleh arus. Keterbukaan warga Indonesia yang semakin baik dan demokratis merupakan kondisi yang menguntungkan bagi Muhammadiyah, karena peran Muhammadiyah akan semakin mudah diterima, namun dengan catatan bahwa Muhammadiyah harus bisa bergerak secara dinamis, luwes, dan kooperatif agar mudah diterima masyarakat dalam radius yang lebih luas.  Ketiga, cengekeraman kapitalisme global yang berdampak langsung kepada pembangunan dan orientasi kehidupan yang memuja materi dan kesenangan duniawi. Jangan sampai amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah terjadi pergeseran paradigma, yakni berorientasi kepada profit dan menjauhkan dari nilai teologi Al Ma’un sebagaimana gerakan awal Muhammadiyah berdiri.

Harapan untuk Muhammadiyah

Dalam mengisi abad kedua ini, banyak harapan dari warga Muhamamdiyah secara khusus mapun warga di luar Muhammadiyah secara umum. Reputasi Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang besar, sekaligus memperoleh kepercayaan luas dari umat Islam dan bangsa Indonesia, sehingga berdampak pada kemudahan bagi Muhammadiyah sendiri dalam menyelenggarakan kegiatan di tingkat nasional maupun internasional. Tanpa harus meninggalkan jati diri, Muhammadiyah harus mampu memperluas jangkauan dakwah, sehingga tercipta arena baru dalam melakukan pencerahan. Maka menjadi penting bagi setiap kader dan pimpinan Muhammadiyah untuk memahami ideologi Muhammadiyah yang menjadi fondasi gerakan Islam ini. Dengan memahami dan mengaktualisasikan ideologi Muhammadiyah, siapapun yang berada dalam lingkungan Muhammadiyah akan memahami siapa dirinya dan bagaimana harus berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku dalam Muhammadiyah.

Muhammadiyah harus memperluas arena dakwah yang selama ini belum tergarap dan tersentuh, seperti ikut serta dalam menyiapkan para kadernya yang berkualitas di bidang politik untuk ambil peran utama dalam proses perbaikan bangsa. Selain pada ranah politik, Muhammadiyah diharapkan mampu bersinergi dengan pemerintah dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pada era globalisasi, termasuk MEA 2015. Salah satu majelis yang dimiliki oleh Muhammadiyah, yaitu Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) diharapkan mampu berkontribusi lebih, meskipun kita tahu nahkoda dari majelis ini telah dipanggil oleh Allah swt, yaitu alm. Said Tuhuleley, namun kita tahu semangat beliau masih tetap membersamai generasi penerus. “Selama masih ada orang menderita, tidak ada kata istirahat”, itulah spirit yang diwariskan oleh almarhum yang telah dibuktikan semasa hidup beliau.

Karakter dan jati diri yang selama ini melekat pada gerakan modern ini juga harus dijaga dan dikembangkan, yaitu kedermawanan (feeding) yang sesuai dengan teologi Al Ma’un, pendidikan (schooling) yang sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah yang tidak bisa dilepaskan dengan suburnya pertumbuhan sekolah dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia, kemudian yang terkhir pelayanan kesehatan (healing) dengan berdirinya klinik dan rumah sakit (PKU) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Karena itu, Muhammadiyah sangat menonjol pada keunggulan lembaga pendidikan, rumah sakit dan balai pengobatan, serta panti asuhan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama warga Muhammadiyah ke depan dalam keiikutsertaan dalam pengembangan karakter yang sudah diakui dunia internasional.

Iman tidak akan sempurna tanpa amal saleh. Bagi Muhammadiyah, iman bukan hanya menunaikan ibadah dengan mengasingkan diri dari manusia dan berbagai permasalahan hidup. Namun lebih dari itu, sikap yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah yakni keimanan yang teraktualisasi pada amal saleh yang berupa karya yang bermanfaat dan solutif bagi umat manusia, yang dibuktikan dengan pertumbuhan dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sebagainya.  Perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang sangat besar secara kuantitatif, harus dibarengi dengan kualitas yang baik dalam memajukan kehidupan bangsa dan umat manusia.

Harapan yang terakhir adalah kriteria figur seorang ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 2015-2020 mendatang. Ketua Umum bukan sekadar simbol dari sebuah era kepemimpinan, melainkan sebagai dirijen dalam mengatur irama Muhammadiyah ke depan. Muhammadiyah banyak melahirkan (atau juga dipengaruhi) tokoh-tokoh yang dengan latar belakang seorang ulama, cendekiawan, maupun seorang teknokrat. Tiga generasi ketua umum terakhir, Muhammadiyah dipimpin oleh cendekiawan muslim dengan gelar “profesor” di belakang nama meraka. Sebelum generasi tersebut, Muhammadiyah selalu dipimpin oleh seorang ulama tulen, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. AR. Sutan Mansur, KH. AR. Fakhruddin, dll. Pada konteks kekinian, sepertinya latar balakang bukanlah menjadi persoalan serius, entah itu seorang ulama, cendekiawan, maupun teknokrat yang nantinya akan memimpin Muhammadiyah. Belum lagi persoalan dikotomi kedaerahan, seperti antara tokoh Jogja dan Jakarta, dikotomi generasi: tua dan muda, maupun konservatif dan progresif. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa Muhammadiyah sudah dewasa dalam menentukan siapa pemimpin dalam setiap generasi. Tanpa harus menyebut nama, persoalan siapa yang akhirnya akan menjadi Ketua Umum definitif, akan dikembalikan sepenuhnya kepada tim formatur terpilih yang berjumlah 13 orang dengan tetap memohon ridha Allah swt.

Secara umum, kriteria ideal yang harus dimiliki oleh ketua umum adalah yang paling mendekati sifat Rasulullah saw., yaitu shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Sifat shidiq artinya figur yang memiliki integritas tinggi (satu kata dan perbuatan) sehingga dapat menjadi teladan umat dan bangsa. Amanah dapat diartikan pemimpin yang bertanggung jawab terhadap segala yang dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai oraganisasi, sehingga figur ini akan memperoleh kepercayaan dari segenap warga Muhammadiyah dan warga Indonesia pada umumnya. Selain itu juga memiliki sikap merdeka dari segala pengaruh di luar Muhammadiyah. Fathanah di sini dapat diartikan sebagai figur yang profesional, memahami betul ideologi Muhammadiyah sehingga segala kebijakan tidak akan lepas dari ideologi yang sudah menjadi keputusan persyarikatan serta memiliki pemahaman keislaman yang mendalam dan luas. Tabligh diartikan sebagai kepemimpinan yang berlandaskan kasih sayang, toleran, moderat, dan tidak menutup diri pada organisasi lain. Indikatornya adalah figur yang mampu berkomunikasi dengan baik (karena level Muhammadiyah tidak hanya pada tataran nasional, namun juga dunia internasional), transparansi dalam manajemen organisasi, dan visioner dalam memajukan Muhammadiyah. Sesuai dengan tagline Muhammadiyah pada Muktamar kali ini, yaitu Islam Berkemajuan. Sudah saatnya Muhammadiyah dipimpin oleh figur yang berorientasi pada pengembangan Muhammadiyah secara internal maupun pada sikap bagaimana Muhammadiyah dapat berkontribusi, baik sebagai pembantu maupun penentu bagi keberlangsungan negara Indonesia, serta menjadi aktor dalam misi perdamaian dunia internasional. Semoga ketua umum yang baru merupakan sosok yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari rahim Muhammadiyah, bukan sosok yang “kemarin sore” baru mengenal Muhammadiyah. Muhammadiyah hebat!

Selamat dan sukses untuk Muktamar Muhammadiyah ke-47!

Bangga menjadi bagian kecil dari perjuangan Muhammadiyah!

Fastabiqul Khairat!

Faisal Isnan, S.Pd.,

Ketua Umum  PC IMM BSKM Kab. Sleman periode 2014-2015

Jangan Menunda Amal Saleh

Pada suatu hari, Rasulullah saw. melayat ke rumah salah seorang sahabat yang dikenal sebagai orang yang saleh. Beliau menanyakan kepada istri sahabat itu, apakah suaminya meninggalkan wasiat kepadanya untuk dilaksanakan.

Sang istri mengatakan, “Entahlah ya Rasulullah, apakah itu sebuah wasiat. Saya tidak memahami karena dia hanya mengulang-ulang tiga kalimat pada saat-saat terakhirnya.”

“Kalimat apa yang kau maksud?”, tanya Rasulullah saw.

“Begini ya Rasul, ‘Seandainya lebih panjang’ ‘Seandainya yang baru’ ‘Seandainya semuanya’, begitu berulang-ulang,” jawab sang istri sahabat tersebut.

Rasulullah kemudian tersenyum. Beliau pun menjelaskan maksud ucapan sahabat tersebut. Tiga kalimat itu adalah ungkapan sang sahabat, karena menyesali masa lalunya.

Masa lalu yang dimaksud adalah ketika suatu kali dia hendak pergi Salat Jumat ke masjid, di tengah jalan dia mendapati seorang yang buta, yang juga hendak menuju ke masjid. Dia pun menuntun si buta hingga tiba di masjid. Saat sakaratul maut, Allah swt. menunjukkan gambaran pahalanya akan perbuatan baik itu. Dan sang sahabat begitu menyesal karena sebenarnya dia bisa menggapai pahala yang lebih banyak lagi. Maka dia pun berkata, “Seandainya lebih panjang (maksudnya, jalan menuju masjid yang dilalui dengan si buta)”

Kemudian, kejadian yang kedua, suatu kali dalam perjalanan ke masjid saat akan melaksanakan Salat Subuh, di tengah jalan sang sahabat melihat orang yang kedinginan. Kebetulan saat itu dia membawa baju hangatnya yang baru, selain mengenakan baju hangatnya yang lama. Serta merta dia pun melepas baju hangat yang melekat di badannya, untuk diberikan kepada orang yang kedinginan itu. Dan dia sendiri mengenakan baju hangatnya yang baru. Ketika sakaratul maut, Allah menunjukkan kepadanya gambaran akan indahnya balasan yang diberikan untuk perbuatan baiknya. Maka sahabat itu pun menyesal, karena dia hanya memberikan baju bekas yang sudah dipakainya. Maka dia pun berkata, “Seandainya yang baru”

Kejadian yang ketiga adalah saat suatu malam, istri sahabat menyiapkan makan malam berupa sepotong roti yang dilapisi mentega. Ketika hendak memakan roti itu, tiba-tiba datang seorang janda dan dua anaknya yang kelaparan mengetuk pintu rumahnya. Kemudian sang sahabat memberikan setengah rotinya kepada mereka. Saat sakaratul maut, Allah memperlihatkan balasan akan kebaikan itu. Dan sang sahabat menyesal, karena dia hanya memberikan setengah, bukan semua rotinya. Bila semua diberikan, maka balasan dari Allah pastilah lebih indah lagi. Makanya dia berkata, “Seandainya semuanya.”

SUBHANALLAH,,,

Masa lalu tidak akan bisa kita ulang kembali. Hikmah yang dapat kita ambil adalah orang yang senang berbuat baik saja menyesal, mengapa tidak melakukan yang lebih baik lagi. Bagaimana dengan orang yang tidak senang berbuat kebaikan? Betapa penyesalan akan dirasakan lebih besar lagi. Bagaimana dengan kita?

Agar tidak menyesal di kemudian hari, mari kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, mulai dari sekarang dan seterusnya!

Fastabiqul Khairat!!

Jepara, 12 Juli 2015

Faisal Isnan, S.Pd.

Kisah Haru pada 3 Hari Sebelum Kepergian Baginda Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. memberikan contoh kepada kita bagaimana menyelesaikan masalah Habluminannas, yaitu hubungan manusia dengan manusia. Mungkin di antara teman-teman semua sudah ada yang tahu kisah ini. Kisah ini sengaja saya tulis kembali setelah mendengar ceramah pada salat tarawih tadi malam (6 Juli 2015), di masjid SMA Muhammadiyah Kauman, Bangsri-Jepara, Jawa Tengah.
Begini kisahnya…

Tiga hari sebelum meninggal, kesehatan Rasulullah saw sudah mulai menurun, jika beliau hendak shalat harus dipapah oleh keluarganya, seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau cucu beliau Hasan dan Husain. Rasulullah Saw, wafat pada hari Senin. Dan sebelumnya pada hari jum’at beliau meminta para sahabat untuk berkumpul sejenak di masjid Nabawi setelah sholat jum’at.
Rasulullah: “Hari ini saya akan menyelesaikan urusan dengan kalian. Yang pertama, apakah saya sudah menyeru kepada kalian untuk menyembah hanya kepada Allah?”

Para Sahabat (secara serentak): “Sudah ya Rasulullah.”

Rasulullah: “Sepertinya saya tidak lama lagi akan meninggalkan kalian. Sebelum saya dipanggil oleh Allah, saya ingin bertanya lagi apakah ada di antara kalian merasa ada yang belum terima selama saya menjadi pemimpin? Atau mungkin ada suatu hutang yang belum saya bayar?”

Para sahabat: (terdiam dan menangis ketika mendengar Rasulullah mengatakan akan dipanggil Allah)

kemudian Rasulullah mengulangi pertanyaan yang sama sampai 3 kali.

Sahabat: “Ya Rasulullah, hutang apakah itu? Engkau adalah seorang nabi, tentunya tidak ada apapun hutang dengan kami dan apapun yang kau minta pasti kami berikan.”

Rasulullah: “Ya saya tahu, apa yang saya minta akan kau berikan kepadaku.”

Sahabat: “Engkau adalah seorang nabi yang Ma’sum, urusan apakah yang hendak baginda selesaikan?”

Rasulullah: “Ya benar, apa yang kau katakan padaku. Saya akan menyelesaikan masalah Habluminannas. Ketika berkumpul dengan kalian, saat berperang, berdagang, meminjam, berhutang pastinya semua itu ada yang membuat kalian sakit hati.”

Para Sahabat: “Ya Rasulullah, sesungguhnya adalah tanggunganmu telah aku bebaskan.”

Rasulullah: “Ya saya tahu, tapi tetap saya sampaikan. Selama kepemimpinan saya, adakah di antara kalian yang tidak setuju atau tidak menyukai, silahkan Qishas (Balas) saya.”

Mereka yang berkumpul di masjid Nabawi pada saat itu hanya hening terdiam, mendengar baginda Rasulullah berucap seperti itu. Tentulah siapa yang merasa tidak beruntung hidup di zaman beliau masih hidup atau di zaman kepemimpinannya. Namun kemudian, salah seorang sahabat berdiri, Ukas.

Ukas: “Rasulullah, saya merasa engkau masih berhutang kepada saya. Jika engkau anggap itu hutang, maka saya ingin engkau membayarnya. Kalau pun itu bukan hutang, maka saya akan mengikhlaskannya.”

Tiada disangka ternyata ada yang bersuara memecah keheningan sesaat, sungguh para sahabat yang lain sangat tercengang mendengar pengakuan Ukas saat itu.

Rasulullah: “Ya bagaimana Ukas, apa kau pernah tersakiti?”

Ukas: “Ya”

Sungguh tidak disangka-sangka, namun tiba-tiba Sayyidina Umar bin Khattab berdiri dengan suara kerasnya.

Sayyidina Umar: “Ya Ukaaaas, satu langkah kau maju, akan kutebas lehermu.” (Teriak Sayyidina Umar sambil mengangkat pedangnya).

Rasulullah: “Ya Umar, sesungguhnya aku mengetahui kedudukanmu di akhirat dengan derajat yang tinggi, maka duduklah.”

Rasulullah: “Bagaimana Ukas, apa yang aku lakukan padamu silahkan kau balas.”

Tidak lama setelah Sayyidina Umar bin Khattab bersuara, kembali Sayyidina Abu Bakar As-Sidiq berdiri dan bersuara lantang.

Sayyidina Abu Bakar: “Ya Ukaaaas, pedangku akan memutus pembicaraanmu, jika kau masih melanjutkannya.” (Teriak Abu Bakar sembari memegang pedangnya).

Saat itu Ukas hendak dimasa oleh para sahabat, namun Rasulullah Saw melarangnya.

Rasulullah: “Ukas, majulah.”

Ukas: “Ketika perang Uhud Ya Rasulullah, tanpa sengaja cambukmu mengenai punggungku.”

Rasulullah yang ketika itu untuk berdiri saja harus dipapah dan dibantu para keluarga dan sahabatnya, namun masih ingin menyelesaikan urusan Habluminannasnya.

Rasulullah: “Baik, Ya Ali, tolong ambilkan cambukku di Fathimah.”

Ketika itu Fathimah yang menyimpan barang-barang Rasulullah ketika beliau mulai jatuh sakit.
Sayyidina Ali yang disuruh Rasulullah langsung lari ke rumah sambil menangis hebat. Sesampainya di rumah, Sayyidina Ali memeluk Fathimah dan menangis tersedu-sedu.

Sayyidina Ali: “Hai kekasihku, tolong ambilkan cambuk Rasulullah.” (Ucap Sayyidina Ali yang tangisnya terurai).

Fathimah: “Untuk apa cambuk ayahku itu?” (Tanya Fathimah yang terheran).

Kemudian Sayyidina Ali menceritakan apa yang terjadi saat itu di masjid Nabawi. Setelah mengetahuinya, Fathimah menangis bersama Sayyidina Ali dengan tersedu-sedu dan mengambilkan cambuk Rasulullah.
Fathimah: “Apakah benar ini akan terjadi kepada utusan-Mu Ya Allah?” (Do’a Fathimah saat bersujud dan menangis hebat).

Lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib bergegas membawa cambuk ke hadapan Rasulullah.

Rasulullah: “Ya Ukas, ini cambuk saya, silahkan balas saya.”

Namun tiba-tiba Sayyidina Ali bin Abi Thalib, berdiri sembari menangis hebat dan mengangkat pedangnya. Subhanallah, tahukah kalian seberapa berat pedang Sayyidina Ali? beratnya mencapai 60 kg, pedang Sayyidina Ali sangat luar biasa saktinya, pedang itu mampu menggempur dan menyerang benteng tentara Romawi.

Sayyidina Ali berdiri dan berteriak

Sayyidina Ali: “Ya Ukas!” (Sembari mengeluarkan pedang dari baju pedangnya).

Rasulullah: “Jangan…. jangan, duduklah Ya Ali. Kau nanti di surga bersamaku, jangan kau kotori tanganmu.”

Rasulullah: “Bagaiman Ukas? Silakan pukul saya!”

Ukas: “Tidak Ya Rasulullah, dulu aku tidak memakai pakaian ketika terkena cambukmu dipunggungku.” (Seru Ukas).

Rasulullah yang sudah rentan dan sakit parah, berusaha membuka baju, tapi kemudian langsung Hasan dan Husain berlari memeluk Rasulullah sambil menangis.

Hasan-Husain: “Ya Ukas, sesungguhnya aku yang berhak menerima balasan.”

Rasulullah: “Wahai cucu-cucuku, duduklah.”

Rasulullah: “Ya Ukas, selelsaikanlah urusanmu denganku.”

Dan akhirnya Ukas lari hendak mencambuk Rasulullah. Tapi apa yang terjadi? Ukas malah mencium noktaf (tanda kenabian) atau stempel kenabian yang ada dipunggung kanan Rasulullah Saw.dan tidak jadi mencambuk Rasulullah.
Subhanallah Walhamdulillah Wa Laaillahailallahu Allahu Akbar! Para sahabat menangis tersedu melihat kejadian tersebut, dan beliau Nabi Muhammad Saw memeluk dan menciumi Ukas.

Ukas: “Mana mungkin saya tega menyakiti Rasulullah. Saya melakukan ini karena saya ingin memeluk Rasulullah dari dekat. Rasulullah adalah orang yang dijanjikan masuk surga dan terhindar dari api neraka. Sejujurnya saya takut akan siksa neraka.”

Rasulullah: “Hai sahabat, saksikanlah! Ukas ini menjadi penghuni surga dan lancar hisab ketika Allah Swt menghisabnya.”

Begitulah akhir dari kisah sekaligus menjadi pelajaran dari Rasulullah Saw tentang penyelesaian Habluminannas.

Jepara, 7 Juli 2015

Faisal Isnan, S.Pd.

Menyambut Bulan Ramadhan 1436 H

Alhamdulillah, tidak terasa dalam hitungan hari, kita akan meninggalkan bulan Sya’ban. Kemudian, kita akan menjejakkan kaki di bulan Ramadhan, bulan yang mengajak kaum muslimin di seluruh belahan dunia untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini menjadi hal yang wajib dilakukan umat Islam sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183).

Sesuai dengan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Insya Allah 1 Ramadhan 1436 H jatuh pada hari Kamis, 18 Juni 2015 yang sebelumnya akan diawali dengan salat tarawih pada (Rabu malam) tanggal 17 Juni 2015. Kita akan memasuki bulan istimewa yang terdapat banyak keberkahan. Bulan yang siang dan malamnya merupakan kemuliaan. Bulan yang di antara salah satu malamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap, “Marhaban ya Ramadhan!”

Sebagai umat Islam, bulan inilah madrasah untuk memompa keimanan dan ketakwaan kita. Jika Ramadhan adalah sebuah madrasah, maka sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT, kita akan masuk dan mengikuti segala proses pendidikan di dalamnya secara benar dan tekun. Sehingga Ramadhan ini akan melahirkan para “wisudawan terbaik” dengan gelar al-Muttaqin.

Dalam menghadapi bulan Ramadhan dengan cara yang berkualitas, maka kita perlu mempersiapkan diri sengan sebaik mungkin. Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita siapkan, yaitu persiapan secara fisik, non-fisik (materi), dan keilmuan.

Persiapan Fisik

Di dalam tubuh kita terjadi proses metabolisme yang berjalan terus sepanjang kehidupan. Dengan proses ini, organ-organ tubuh bekerja sehingga kita dapat melakukan aktivitas. Metabolisme ini menghasilkan energi dan sampah. Energi digunakan sebagai bahan bakar seluruh organ yang ada dalam tubuh untuk melakukan kegiatan, sedangkan sampah adalah zat berbahaya jika tidak segera dibuang atau didaur ulang menjadi zat-zat yang berguna. Bila proses pembuangan dan daur ulang sampah tersebut gagal, maka seseorang bisa menjadi lesu, tidak bersemangat, dan mudah sakit.

Prof. Hiromi Shinya, M.D., ahli bedah gastroenterologi mengatakan bahwa tidak makan adalah pemicu autofagi, yaitu proses pembuangan dan pendaur ulang sampah tubuh. Beliau juga menyarankan puasa kurang lebih empat belas jam atau sesuai dengan puasanya umat Islam, yaitu dimulai fajar terbit sampai maghrib. Dalam rentang waktu tersebut adalah waktu ideal mengosongkan perut dan memunculkan rasa lapar untuk mengaktifkan proses autofagi tanpa efek samping yang membahayakan tubuh.

Dalam puasa Ramadhan ini memberikan kesempatan kepada tubuh kita untuk melakukan proses autofagi selama sebulan penuh, dan menjadi sempurna jika setelah puasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Maka tidak heran, Rasulullah adalah sosok yang hampir tidak pernah sakit, seperti penyakit yang sering kita jumpai sekarang ini. Ternyata rahasia beliau adalah berpuasa dan pola makan yang diatur sedemikian rupa, yaitu makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.: “Keluarga Nabi Muhammad SAW tidak pernah kenyang dengan makanan selama tiga hari hingga beliau wafat.”

Persiapan non-fisik (materi)

Ada pepatah mengatakan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh kemuliaan, maka pada bulan ini segala bentuk amal kebaikan akan dilipatgandakan ganjarannya oleh Allah SWT. Kemampuan bersedekah, infak, maupun zakat akan tergantung pada kemampuan pribadi masing-masing. Dengan demikian, perlu kiranya kita mempersiapkan sejak dini, sehingga saat bulan Ramadhan tiba kita dapat memberikan harta kita melalui jalan Allah, seperti berinfak setiap berjamaah di masjid, memberikan makan takjil (berbuka puasa), dan untuk zakat fitrah.

Amalan yang dianjurkan saat bulan Ramadhan selain memperbanyak mambaca Al Qur’an, yaitu memperbanyak sodaqoh. Bersodaqoh ibarat menanam sebiji benih yang menghasilkan sampai tujuh ratus biji, suatu hasil yang fantastis bagi seorang yang ikhlas karena Allah SWT. Sebagaimana dalam firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

Orang yang suka memberi, artinya orang yang tidak pernah takut kehilangan. Justru semakin banyak kita memberi, maka kemuliaan kita sebagai hamba Allah akan semakin meningkat. Memberi bagaikan menanam sebuah tanaman yang akan kita panen hasilnya di akhirat kelak. Dengan memberi pula hubungan silaturahmi kita dengan orang lain akan semakin baik, karena hikmah dari silaturahmi adalah memperbanyak rezeki dan memperpanjang umur.

Persiapan Keilmuan

Pada persiapan yang terakhir ini juga tidak kalah pentingnya. Amalan puasa Ramadhan dan amalan-amalan lain yang menyertainya harus berlandaskan pada Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW yang shahih. Bahkan sebelum masuk bulan Ramadhan sering ada seruan seperti saling bermaafan pada sanak keluarga, sauadara, dan teman-teman, jika tidak dilakukan maka ibadah puasa akan sia-sia. Kemudian keharusan berziarah di makam keluarga dan leluhur, dan masih banyak ritual yang tidak jelas dasar hukumnya. Ini merupakan hal-hal yang perlu diluruskan, karena sudah menjadi suatu tradisi dalam masyarakat. Sepintas kita melihat tradisi tersebut sangat positif dan baik. Namun, dalam ilmu fikih dikatakan bahwa segala yang berkaitan dengan ibadah (mahdah), segalanya menjadi haram kecuali ada dalil yang menyuruhnya. Artinya, kita tidak boleh main-main dengan hal ibadah ini. Apalagi mengada-adakan suatu tradisi yang seolah-olah membenarkan bahwa itu merupakan bagian dari ajaran Islam, maka amalan itu akan tertolak.

Dengan kata lain, kita harus membekali diri untuk membuka wawasan dan memahami hukum-hukum seputar ibadah puasa Ramadhan. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah menerbitkan buku Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan. Dengan bekal ini, maka pelaksanaan ibadah puasa menjadi lebih tenang dan ikhlas semata-mata mengharap ridha dari Alllah SWT tanpa harus mengkhawatirkan apakah ibadah kita akan diterima atau tidak. Kita wajib melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Selain itu,  kita harus melaksanakan ibadah-ibadah lain  selama  Ramadhan  dengan  penuh ketekunan dan rasa keikhlasan,  seperti  shalat  tarawih,  membaca  dan  memahami  Al-Qur’an,  berdzikir,  berdo’a, menyediakan  buka  puasa (takjil),  bersodaqoh,  i’tikaf, membayar zakat dan lain sebagainya.

Marilah  kita  manfaatkan Ramadhan tahun ini dengan  sebaik-baiknya. Mungkin saja ini adalah Ramadhan terakhir kita. Maka kesempatan  emas  ini harus dipersiapkan semaksimal mungkin dan tidak lupa memohonkan  ampunan  kepada Allah SWT. Semoga puasa kita  diterima dan pada akhirnya mendapatkan predikat orang yang bertakwa sebagaimana yang  dijanjikan Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 183.

Marhaban Ya Ramadhan!
Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat!

Yogyakarta, 14 Juni 2015

Ketua Umum PC IMM BSKM

Faisal Isnan, S.Pd.

Pernyataan Sikap PC IMM BSKM terhadap Pemerintahan Jokowi-JK

Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kami atas nama Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bulaksumur-Karangmalang (UGM dan UNY) mengkritisi berberapa kebijakan pemerintahan Jokowi-JK di sektor ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan.

Sikap:

  1. Pemerintahan Jokowi-JK gagal dalam mengelola sektor ekonomi.
  2. Menolak segala intervensi pemerintah dalam penegakkan hukum pada seluruh lembaga penegak hukum.
  3. Menolak seluruh intervensi pemerintah terhadap partai politik dan lembaga independen, khususnya di bidang olahraga.
  4. Mendesak pemerintah untuk memperbaiki sistem pedidikan, pemerataan kualitas pendidikan di setiap daerah, dan peningkatan kesejahteraan guru.
  5. Mengingatkan pemerintahan Jokowi-JK tentang janji nawacita pada saat kampanye pemilihan Presiden.

Hiduplah Indonesia Raya!
Fastabiqul Khairat!

Yogyakarta, 20 Mei 2015

Ketua Umum PC IMM BSKM 2014-2015

Faisal Isnan, S. Pd.

TALKSHOW KEWIRAUSAHAAN “Get Success to be Young Entreprenuer”

11093166_972311936122038_910286882_o

Sabtu, 28 Maret 2015, Pimpinan Komisariat Ikatan Mawahasiswa Muhammadiyah KH. Ahmad Badawi UNY menyelanggarakan Taklshow Kewirausahaan dengan tema Get Success to be Young Entreprenuer. Tujuan diadakannya Talkshow Kewirausahaan ini adalah untuk memotivasi pemuda Indonesia menjadi seorang pengusaha sebagai salah satu upaya untuk memajukan Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui bahwa suatu negara disebut maju apabila memiliki jumlah pengusaha sebanyak minimal 2% dari total jumlah penduduk. Indonesia sendiri baru memiliki pengusaha sejumlah 1,36%.

 11090823_972317926121439_47140001_o

Acara dimulai pukul 09.00 yang dibuka dengan sambutan ketua PK IMM KH Ahmad Badawi Immawan Calits Mumbahij Bahi dan Kabid Sospemas PC IMM Bulaksumur-Karangmalang Immawan Auliaurrohman. Kedua penyambut berpesan, kader IMM tidak boleh hanya reaktif pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang saat ini dirasa semakin tidak pro rakyat, tapi juga solutif. Salah satunya adalah dengan menjadi pengusaha sehingga dapat membuka lapangan kerja dan turut andil dalam perekonomian negara.

Talkshow tersebut dibersamai dengan Bapak H. Saud El-Hujjaj S.Ag, Ketua harian Indonesian Islamic Business Forum (IIBF). Acara yang dilangsungkan di PP Muhammadiyah Cik Ditiro itu dimoderatori oleh Immawan Burham Yunanto, Sekbid Ekowir DPD IMM DIY. Pemilihan Immawan Burham sebagai moderator tentu saja bukan tanpa alasan. Di usianya yang masih muda, Immawan Burham telah menjadi pemilik dari AHIN Group yang berjalan di bidang jasa dan penyewaan. Selain itu, dia merupakan salah satu penggagas Gerakan Beli Indonesia.

11103635_972311899455375_1347211364_o

Di dalam talkshow tersebut, bapak Saud menyampaikan tiga rumus sukses menjadi seorang pengusaha. Pertama, seorang pengusaha harus memiliki kemampuan membaca pasar, maksudnya bisa mengetahui apa yang pasar inginkan dan kalangan mana yang akan membelinya. Kedua, seorang pengusaha harus mengetahui produk mana yang termurah dan yang terbagus, hal ini penting untuk mengetahui daya saing produk. Terakhir, seorang pengusaha harus mampu memelihara dan mengembangkan pasar dengan menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

(Ayu Chandra)

11089117_972317919454773_1054701288_o 11040974_972317949454770_358202797_o 11089128_972317929454772_1370344206_o 11097094_972311929455372_206429166_o

Allah, Sebenar-Benarnya An-Nashr

Oleh Phisca Aditya Rosyady

Mahasiswa S-2 Seoul National University of Science and Technology

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.”

(Q.S Al Maidah : 11)

jbjkbjkbkj

Istagram : @adityaphisca

Terkadang kita heran dan mungkin bertanya saat kita dihindarkan dari sebuah hal celaka.  Boleh jadi mungkin hal-hal buruk yang seolah mengancam kita tau-tau menjauh dari hadapan kita. Entah kita kecelakaan lalu kita selamat, entah kita dihadang masalah lalu kita bisa mengatasinya, entah pula kita dihadang begal seperti yang saat ini marak terjadi,  lalu kita diselamatkan dari ancaman para begal tersebut?  Bukan secara tiba-tiba ternyata pertolongan itu datang sahabatku, ternyata ada Sang Maha Penolong dibalik kejadian-kejadian ini. Ialah Allah SWT. Empat tahun silam, Saya pernah  mendapatkan marabahaya begal yang sempat menghadang dan menjatuhkan motor Saya sepulang lembur proyek riset kampus. Kala itu saya dihadang dan sempat dikepung beberapa gerombolan orang yang akan berniat jahat. Namun, Alhamdulillah Allah masih memberikan pertolonganNya dengan jalan yang sudah digariskan. Kala itu Saya benar-benar merasa kecil dan lemah tanpa pertolonganNya.

Dalam Q.S. Al Maidah ayat 11 diatas jelas disebutkan bahwa salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah kita dihindarkan dari prahara ataupun celaka dari tangan-tangan orang jahat. Mungkin yang sering terlintas dalam benak kita, kenikmatan itu adalah hal-hal yang kita dapatkan berupa kemudahan dan kebahagiaan dalam konteks bisa langsung dirasakan seperti kita mendapatkan kesehatan, waktu luang, kebahagiaan bersama keluarga dan masih banyak lagi. Namun ternyata tak cuma itu sahabatku, ada kenikmatan yang kadang jauh lebih berkesan namun kita kadang melupakannya. Yup, adalah nikmat pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Terhindar dari hal-hal yang celaka tentu menjadi salah satu hal yang patut disyukuri, karena disitulah kita akan mendapatkan beberapa hikmah yang bias kita ambil iktibarnya seperti berikut.

1. Kita Memang Lemah

Manusia sangatlah lemah, tak bisa berbuat apa-apa saat mungkin ia dalam suatu kondisi yang akan mencelakakan dirinya. Mungkin suatu ketika ditempatnya terjadi gempa bumi yang dahsyat, saat itu manusia tak berkutik dan mungkin hanya bisa berlari kesana-kemari untuk menyelamatkan diri. Pada titik nadzir itulah kita menyadari betapa lemahnya kita, dan mungkin kita akan malu dengan segala keangkuhan kita selama ini.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

Harapannya setelah kita mengetahui kalau kita memang lemah kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang Allah berikan, lebih menghambakan diri kepadaNya dengan segala kebesaranNya.

2. Allah, Sebenar-benarnya An-Nashr

Pada ketika kita lemah dan seolah berada di ujung tanduk kesulitan. Hanya ada satu dzat yang bisa menyelamatkan kita. An Nashr, ialah sang Maha Penolong. Tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT.  Dalam Al Quran juga disebutkan saat itu kaum muslim diberikan kemenangan yang mutlak dalam fathul mekkah, saat itulah An-Nashr nya Allah pun berada dibalik layar.Turunnya pertolongan Allah bagi agama mereka. Dibukanya hati manusia untuk menerima agama ini lalu diperintahkannya mereka untuk bertasbih dan mensucikan Allah. Sebab itu semua adalah faktor keberhasilan. Ini adalah konteks pertolongan Allah yang relative cukup besar, belum lagi kalau kita mentaffakuri hidup kita selama ini, mungkin telah banyak pertolongan-pertolongan Allah yang hadir dalam diri kita namun kita tak menggubrisnya karena kita ditutupi sifat takabur dalam diri.

Dalam Q.S. An-Nashr : 1-3

  1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
  2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
  3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat

3. Tawakkal adalah Senjata Pamungkas Seorang Muslim 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(QS. Ath Thalaaq : 2-3).

Sekuat apapaun ikhtiar kita, sekeras apapun doa-doa kita, semua hasil tentunya ada ditangan Sang Maha Berkehendak (Iradah). Inilah yang kemudian menghadirkan konsep tawakkal itu ada. Tawakkal juga merupakan bentuk perwujudan keyakinan kita bahwa penentu utama setiap kejadian itu adalah Allah SWT.

Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah SWT dengan maksud untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata. Termasuk dalam setiap saat dan setiap waktu kita sepatutnya bertawakkal kepada Allah SWT dengan segala apa yang kita ikhtiarkan, bertawakkal pada saat kita mungkin dalam kondisi yang sulit dan berbahaya. Dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memanjangkan tanganNya untuk memberikan bantuan kepada diri kita yang hina dan lemah ini. Dengan bertawakkal lah diri ini akan merasa tenang dan ringan dalam menghadapi seberat apapun kondisi yang kita hadapi.

4. Menjadi Pribadi Syukur Nikmat

Nikmat terhindar dari mara bahaya tentu menjadi suatu nikmat yang tak terbayangkan. Bayangkan saja mungkin suatu ketika kita terancam nyawa kita, namun karena Allah berkehendak lain, kita selamat dari suatu kejadian yang tidak kita inginkan. Ini menjadi hal yang patut kita syukuri. Kalaupun kita selama ini masih sulit untuk memulai menjadi insan yang senantiasa bersyukur, mungkin kita bisa mulai tersadar pasca kita mendapatkan nikmat berupa pertolongan dari Allah ini. Karena setiap kejadian yang kita alami pasti tak bias lepas dari anugerah dan nikmatNya.

Allah swt berfirman dalam Q.S Ibrahim ayat 7 yang artinya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Sebagai seorang muslim yang baik, tentunya setelah kita mendapatkan nikmat-nikmat itu kita tidak malah terlena dalam kondisi kesenangan kita. Namun mari kita giatkan amal-amal kebaikan kita agar lebih meningkat ketimbang sebelumnya.  Ibaratnya syukur akan menjadi kunci untuk membuka kenikmatan-kenikmatan yang jauh lebih besar. Namun hakikatnya tetap syukur sebagai bentuk terimakasih dan penghambaan kita kepada Allah.

Demikian sedikit ulasan tentang makna yang terkandung dalam Q.S Al Maidah : 11. Harus kita akui kita sebagai manusia yang lemah tentunya hanyalah mendamba pertolongan dari satu-satunya dzat yang Maha Penolong, An Nashr. Allah SWT. Percayalah, Allah akan selalu ada saat kita membutuhkannya, asalkan kita selalu dekat denganNya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dekat denganNya karena hidupnya pasti akan dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan karena Penolong yang sebenar-benar Penolong ada selalu di dekatnya, Allah SWT.

Wallahu A’lam Bishawab,

sumber: http://adityaphisca.blogspot.kr/2015/03/allah-sebenar-benarnya-nashr.html

PC IMM BSKM Gelar Reuni Kader dan Diskusi

IMG-20150317-WA0002

Yogyakarta – Menyambut milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ke-51 sekaligus milad cabang IMM Bulaksumur-Karangmalang (UGM dan UNY) ke-11, pada Ahad pagi (15/3) PC IMM BSKM menyelenggarakan acara reuni kader sekaligus diskusi bersama Bapak Immawan Wahyudi, Wakil Bupati Gunungkidul yang juga mantan Ketua Umum DPP IMM tahun 1985-1986. Bertempat di aula kantor PP Muhammadiyah jl. Cik Ditiro Yogyakarta, acara ini dihadiri oleh alumni IMM BSKM lintas generasi, perwakilan DPD IMM DIY, serta kader aktif IMM di BSKM.

FB_IMG_1426630389068JpegIMG-20150317-WA0000

Ketua Umum PC IMM BSKM, Faisal Isnan dalam sambutannya berpesan, “Dalam milad kali ini, kita maknai dengan sebuah refleksi untuk mengevaluasi capaian IMM selama ini, bukan sekadar seremonial semacam lomba-lomba. Selamat milad IMM ke-51 dan juga cabang IMM BSKM ke-11, semoga semakin jaya dan selalu memproduksi amal-amal saleh berlandaskan keimanan dan ketakwaan.” Kemudian di dalam acara diskusi yang bertemakan “Menakar Karakter Kader Muhammadiyah dalam Gerakan Pencerahan di Pemerintahan untuk Indonesia Berkemajuan” dengan dimoderatori oleh Taufiq AR (Ketua Umum PC IMM BSKM periode pertama), Bapak Immawan Wahyudi menyinggung soal semrawutnya negeri ini. Dalam berpolitik, beliau berprinsip bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan setidaknya yang perlu diperhatikan adalah persoalan retorika, dialektika, dan etika. Ketika ketiga aspek tersebut luput dari perhatian seorang pejabat publik, maka akan memunculkan berbagai persoalan di kemudian hari. Setelah acara diskusi, diumumkan pemenang lomba-lomba dalam semarak milad IMM ke-51 ini, seperti lomba hafalan juz 30, lomba fotografi, lomba menulis surat cinta untuk IMM, dan lomba badminton.

Fastabiqul Khairat!

(Faisal Isnan)

JpegJpegIMG-20150317-WA0001

Surat Cinta untuk IMM (2)

Yogyakarta, 11 Maret 2015

Dear IMM,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebelum kutanyakan kabar, aku ingin mengucapkan, Selamat Milad untuk IMM yang ke-51 dan PC IMM BSKM yang ke-11, semoga semakin memerahkan semangat para pejuang penegak dien Allah dan senantiasa menginspirasi dengan hati.

Seperti lazimnya surat pada umumnya, aku pun ingin menanyakan bagaimana kabar IMM. Jadi kutanyakan saja, “Apa kabar IMM?” Terasa ringan dan sangat biasa memang, namun menanyakan kabar IMM sama saja seperti menanyakan kabar diri sendiri. Lalu, bagaimana dengan kabar diri sendiri? Ah, terlalu kompleks kukira. Seperti gelombang, ada pasang surut, ada naik turun. Begitu pula diri ini yang baru kemarin sore nyemplung ke IMM. Ada banyak hal baru dan unik yang terjadi, tentang aku dan IMM. Tentu saja semuanya baik, hanya saja, setiap kebaikan pastilah akan muncul dengan cara yang berbeda-beda. Ada satu titik menyenangkan, ada satu titik tidak menyenangkan, ada satu titik ingin mengubah, ada satu titik hanya ingin diam saja, dan masih banyak lagi. Milad IMM dan PC IMM BSKM memberiku kesempatan untuk menguraikan satu dua hal tentang apa yang kupikirkan mengenai IMM.

Pertama kali mendengar istilah IMM adalah ketika aku berada di kelas tiga SMA. Nama IMM masih amat asing bagiku. Sedari kecil, aku tidak berada di lingkungan Muhammadiyah. Jadilah aku seorang yang tidak tahu apa-apa soal Muhammadiyah. Ketika memutuskan untuk kuliah di Jogja, kedua kakakku memberikan banyak pandangan mengenai kehidupan di Jogja, kehidupan kampus, kuliah dan organisasi, termasuk di dalamnya pergerakan mahasiswa. Entah terpengaruh atau bagaimana, aku pun sudah berencana untuk masuk ke IMM sejak SMA, meski bahkan sebenarnya aku tidak tahu apa itu IMM.

Hampir putus asa, itu yang aku rasakan ketika mencari IMM di kampus namun tidak kutemukan. Sejak mengurus registrasi hingga ospek, tak jua kutemukan IMM. Saat itu, aku belum paham perbedaan organisasi internal kampus dan eksternal kampus di universitas negeri, yang aku tahu, jika keduanya sama-sama organisasi mahasiswa, seharusnya keduanya sama-sama nongol di kampus ketika mahasiswa baru masih hilir mudik. Kalau organisasi daerah saja banyak yang tampil menggelar tikar seadanya dan dengan ramahnya mengajak para mahasiswa anyaran untuk mampir, lalu IMM dimana? Bendera merah itu menghilang kemana? Jangan-jangan kampus ini tidak punya IMM? Tapi kata kakakku, setiap kampus pasti punya. Lalu, mana IMM-nya kampusku ini? Mungkin memang aku yang tidak menemukan, atau memang IMM yang malu-malu untuk tampil di depan umum ketika registrasi mahasiswa? Entahlah.

Sebuah titik terang yang memberitahuku keberadaan IMM muncul di hari terakhir ospek ketika aku dan kawan-kawan berpamitan kepada pemandu ospek. Tiba giliranku berjabat tangan dengan pemandu gugusku, di situlah aku tahu bahwa IMM ‘ada’ di sini.

Waktu berjalan, dan sampailah aku menjadi salah satu bagian dari panitia baksos Idul Adha di Gunung Kidul tahun 2013 lalu. Hal yang membuatku senang berada di antara mereka: bersatu dalam perbedaan. Jujur, ada rasa sedih ketika mengetahui bahwa IMM di kampus ini terbagi menjadi dua komisariat. Itu artinya, aku tidak akan bertemu dengan orang-orang sebanyak ini lagi dalam sebuah rapat. Ternyata benar, ketika baksos selesai, kita kembali pada komisariat masing-masing. Lebih sepi, membuatku rindu kapan lagi ada acara yang melibatkan kedua komisariat.

Ketika sudah menjadi pengurus, semakin banyak hal yang kupelajari, tentu saja semakin banyak pula duri yang menancap. Aku mulai merasakan ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus di IMM. Pemikiran yang sedikit egois memang, karena aku begitu menyukai dunia kepenulisan dan diskusi, dan aku tak menemukannya di IMM, perlahan aku merasakan ada yang kurang di sini. Bagiku, IMM sama saja seperti organisasi internal kampus, mengerjakan proker, mencapai target ini itu, dan jarang sekali kutemukan pengembangan intelektual di sini kecuali sedikit. Ketika aku tahu mengenai trilogi yang diusung IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, maka aku masih mencari satu dari tiga hal yang seharusnya ada di IMM. Memang, aku sadar bahwa IMM di kampus negeri tidak akan sama dengan IMM di kampus Muhammadiyah maupun kampus Islam negeri. Namun, bukankah seharusnya itu menjadi lecutan bagi IMM di kampus negeri untuk mengembangkan diri? Jika dosen di kelas selalu menjadikan kita berjiwa kompetitif dalam hal akademik, mengapa organisasi yang terjun langsung ke masyarakat justru tidak menjadikan kita berjiwa kompetitif di luar sana? Jika kemudian banyak yang memilih aktif di organisasi internal kampus daripada IMM, itu adalah hal yang wajar. Organisasi internal kampus mendidik kita untuk memiliki jiwa kompetitif, menjadikan kekurangan yang kita punya sebagai bahan renungan dan pencapaian organisasi internal lainnya membuat kita berpikir, Ah ya! organisasi kita harus bisa lebih baik dari mereka walaupun kita terbatas dalam hal ini dan itu…. Nah, bagimana dengan IMM? Bukankah daripada berjuang untuk menjadikan IMM lebih baik di kampus negeri, kita lebih memilih untuk berpikir “IMM di kampus negeri ya memang seperti ini..”?

Pernah suatu ketika aku mempertanyakan kenapa di IMM harus ada aspek intelektual? Jawaban yang kudapat sederhana: karena kita mahasiswa. Ah, namanya saja sudah IMM, Ikatan MAHASISWA Muhammadiyah, tentu saja yang ada di dalamnya adalah mahasiswa, kaum intelektual kalau orang bilang. Kalau hanya diartikan demikian, berarti intelektual hanya sekedar nama? Kalau dijadikan realita, buktinya belum banyak. Diskusi susah, membaca susah, menulis apalagi. Peka terhadap sosial memang tinggi, tapi untuk duduk bersama, berdiskusi, banyak membaca dan menuliskannya, menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Aksi intelektual bukan hanya soal titel mahasiswa yang menempel di kepanjangan IMM kan? Aksi intelektual bukan hanya soal IPK kader IMM kan? Bukankah aksi intelektual bisa dengan cara yang sederhana? Senang berdiskusi, membaca, dan menulis? Mari berbenah, meskipun kecil, namun biarkan yang kecil itu hidup, lama-lama, setiap kehidupan yang dihidupi akan tumbuh dan berkembang. Termasuk soal intelektualnya.

IMM banyak membuatku belajar, ada senang, ada sedih, ada rasa capek, ada rasa hambar, ada motivasi, ada yang membuat semangat up and down, dan masih banyak lagi. Baru kemarin sore aku nyemplung di IMM, namun pelajaran yang diberikan sungguh luar biasa. Semoga ke depan, semakin banyak pelajaran yang bisa kupetik dari sini.

Sekali lagi, selamat milad IMM dan PC IMM BSKM, semoga kadernya semakin banyak, karena banyak sedikitnya kader mempengaruhi semangat untuk berkiprah di IMM. Salam Faskho!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Vega Inria Resmi

Sekretaris Bidang Hikmah PK IMM AR. Sutan Mansur UNY