Pernyataan Sikap PC IMM BSKM terhadap Pemerintahan Jokowi-JK

Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kami atas nama Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bulaksumur-Karangmalang (UGM dan UNY) mengkritisi berberapa kebijakan pemerintahan Jokowi-JK di sektor ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan.

Sikap:

  1. Pemerintahan Jokowi-JK gagal dalam mengelola sektor ekonomi.
  2. Menolak segala intervensi pemerintah dalam penegakkan hukum pada seluruh lembaga penegak hukum.
  3. Menolak seluruh intervensi pemerintah terhadap partai politik dan lembaga independen, khususnya di bidang olahraga.
  4. Mendesak pemerintah untuk memperbaiki sistem pedidikan, pemerataan kualitas pendidikan di setiap daerah, dan peningkatan kesejahteraan guru.
  5. Mengingatkan pemerintahan Jokowi-JK tentang janji nawacita pada saat kampanye pemilihan Presiden.

Hiduplah Indonesia Raya!
Fastabiqul Khairat!

Yogyakarta, 20 Mei 2015

Ketua Umum PC IMM BSKM 2014-2015

Faisal Isnan, S. Pd.

TALKSHOW KEWIRAUSAHAAN “Get Success to be Young Entreprenuer”

11093166_972311936122038_910286882_o

Sabtu, 28 Maret 2015, Pimpinan Komisariat Ikatan Mawahasiswa Muhammadiyah KH. Ahmad Badawi UNY menyelanggarakan Taklshow Kewirausahaan dengan tema Get Success to be Young Entreprenuer. Tujuan diadakannya Talkshow Kewirausahaan ini adalah untuk memotivasi pemuda Indonesia menjadi seorang pengusaha sebagai salah satu upaya untuk memajukan Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui bahwa suatu negara disebut maju apabila memiliki jumlah pengusaha sebanyak minimal 2% dari total jumlah penduduk. Indonesia sendiri baru memiliki pengusaha sejumlah 1,36%.

 11090823_972317926121439_47140001_o

Acara dimulai pukul 09.00 yang dibuka dengan sambutan ketua PK IMM KH Ahmad Badawi Immawan Calits Mumbahij Bahi dan Kabid Sospemas PC IMM Bulaksumur-Karangmalang Immawan Auliaurrohman. Kedua penyambut berpesan, kader IMM tidak boleh hanya reaktif pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang saat ini dirasa semakin tidak pro rakyat, tapi juga solutif. Salah satunya adalah dengan menjadi pengusaha sehingga dapat membuka lapangan kerja dan turut andil dalam perekonomian negara.

Talkshow tersebut dibersamai dengan Bapak H. Saud El-Hujjaj S.Ag, Ketua harian Indonesian Islamic Business Forum (IIBF). Acara yang dilangsungkan di PP Muhammadiyah Cik Ditiro itu dimoderatori oleh Immawan Burham Yunanto, Sekbid Ekowir DPD IMM DIY. Pemilihan Immawan Burham sebagai moderator tentu saja bukan tanpa alasan. Di usianya yang masih muda, Immawan Burham telah menjadi pemilik dari AHIN Group yang berjalan di bidang jasa dan penyewaan. Selain itu, dia merupakan salah satu penggagas Gerakan Beli Indonesia.

11103635_972311899455375_1347211364_o

Di dalam talkshow tersebut, bapak Saud menyampaikan tiga rumus sukses menjadi seorang pengusaha. Pertama, seorang pengusaha harus memiliki kemampuan membaca pasar, maksudnya bisa mengetahui apa yang pasar inginkan dan kalangan mana yang akan membelinya. Kedua, seorang pengusaha harus mengetahui produk mana yang termurah dan yang terbagus, hal ini penting untuk mengetahui daya saing produk. Terakhir, seorang pengusaha harus mampu memelihara dan mengembangkan pasar dengan menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

(Ayu Chandra)

11089117_972317919454773_1054701288_o 11040974_972317949454770_358202797_o 11089128_972317929454772_1370344206_o 11097094_972311929455372_206429166_o

Allah, Sebenar-Benarnya An-Nashr

Oleh Phisca Aditya Rosyady

Mahasiswa S-2 Seoul National University of Science and Technology

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.”

(Q.S Al Maidah : 11)

jbjkbjkbkj

Istagram : @adityaphisca

Terkadang kita heran dan mungkin bertanya saat kita dihindarkan dari sebuah hal celaka.  Boleh jadi mungkin hal-hal buruk yang seolah mengancam kita tau-tau menjauh dari hadapan kita. Entah kita kecelakaan lalu kita selamat, entah kita dihadang masalah lalu kita bisa mengatasinya, entah pula kita dihadang begal seperti yang saat ini marak terjadi,  lalu kita diselamatkan dari ancaman para begal tersebut?  Bukan secara tiba-tiba ternyata pertolongan itu datang sahabatku, ternyata ada Sang Maha Penolong dibalik kejadian-kejadian ini. Ialah Allah SWT. Empat tahun silam, Saya pernah  mendapatkan marabahaya begal yang sempat menghadang dan menjatuhkan motor Saya sepulang lembur proyek riset kampus. Kala itu saya dihadang dan sempat dikepung beberapa gerombolan orang yang akan berniat jahat. Namun, Alhamdulillah Allah masih memberikan pertolonganNya dengan jalan yang sudah digariskan. Kala itu Saya benar-benar merasa kecil dan lemah tanpa pertolonganNya.

Dalam Q.S. Al Maidah ayat 11 diatas jelas disebutkan bahwa salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah kita dihindarkan dari prahara ataupun celaka dari tangan-tangan orang jahat. Mungkin yang sering terlintas dalam benak kita, kenikmatan itu adalah hal-hal yang kita dapatkan berupa kemudahan dan kebahagiaan dalam konteks bisa langsung dirasakan seperti kita mendapatkan kesehatan, waktu luang, kebahagiaan bersama keluarga dan masih banyak lagi. Namun ternyata tak cuma itu sahabatku, ada kenikmatan yang kadang jauh lebih berkesan namun kita kadang melupakannya. Yup, adalah nikmat pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Terhindar dari hal-hal yang celaka tentu menjadi salah satu hal yang patut disyukuri, karena disitulah kita akan mendapatkan beberapa hikmah yang bias kita ambil iktibarnya seperti berikut.

1. Kita Memang Lemah

Manusia sangatlah lemah, tak bisa berbuat apa-apa saat mungkin ia dalam suatu kondisi yang akan mencelakakan dirinya. Mungkin suatu ketika ditempatnya terjadi gempa bumi yang dahsyat, saat itu manusia tak berkutik dan mungkin hanya bisa berlari kesana-kemari untuk menyelamatkan diri. Pada titik nadzir itulah kita menyadari betapa lemahnya kita, dan mungkin kita akan malu dengan segala keangkuhan kita selama ini.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

Harapannya setelah kita mengetahui kalau kita memang lemah kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang Allah berikan, lebih menghambakan diri kepadaNya dengan segala kebesaranNya.

2. Allah, Sebenar-benarnya An-Nashr

Pada ketika kita lemah dan seolah berada di ujung tanduk kesulitan. Hanya ada satu dzat yang bisa menyelamatkan kita. An Nashr, ialah sang Maha Penolong. Tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT.  Dalam Al Quran juga disebutkan saat itu kaum muslim diberikan kemenangan yang mutlak dalam fathul mekkah, saat itulah An-Nashr nya Allah pun berada dibalik layar.Turunnya pertolongan Allah bagi agama mereka. Dibukanya hati manusia untuk menerima agama ini lalu diperintahkannya mereka untuk bertasbih dan mensucikan Allah. Sebab itu semua adalah faktor keberhasilan. Ini adalah konteks pertolongan Allah yang relative cukup besar, belum lagi kalau kita mentaffakuri hidup kita selama ini, mungkin telah banyak pertolongan-pertolongan Allah yang hadir dalam diri kita namun kita tak menggubrisnya karena kita ditutupi sifat takabur dalam diri.

Dalam Q.S. An-Nashr : 1-3

  1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
  2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
  3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat

3. Tawakkal adalah Senjata Pamungkas Seorang Muslim 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(QS. Ath Thalaaq : 2-3).

Sekuat apapaun ikhtiar kita, sekeras apapun doa-doa kita, semua hasil tentunya ada ditangan Sang Maha Berkehendak (Iradah). Inilah yang kemudian menghadirkan konsep tawakkal itu ada. Tawakkal juga merupakan bentuk perwujudan keyakinan kita bahwa penentu utama setiap kejadian itu adalah Allah SWT.

Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah SWT dengan maksud untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata. Termasuk dalam setiap saat dan setiap waktu kita sepatutnya bertawakkal kepada Allah SWT dengan segala apa yang kita ikhtiarkan, bertawakkal pada saat kita mungkin dalam kondisi yang sulit dan berbahaya. Dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memanjangkan tanganNya untuk memberikan bantuan kepada diri kita yang hina dan lemah ini. Dengan bertawakkal lah diri ini akan merasa tenang dan ringan dalam menghadapi seberat apapun kondisi yang kita hadapi.

4. Menjadi Pribadi Syukur Nikmat

Nikmat terhindar dari mara bahaya tentu menjadi suatu nikmat yang tak terbayangkan. Bayangkan saja mungkin suatu ketika kita terancam nyawa kita, namun karena Allah berkehendak lain, kita selamat dari suatu kejadian yang tidak kita inginkan. Ini menjadi hal yang patut kita syukuri. Kalaupun kita selama ini masih sulit untuk memulai menjadi insan yang senantiasa bersyukur, mungkin kita bisa mulai tersadar pasca kita mendapatkan nikmat berupa pertolongan dari Allah ini. Karena setiap kejadian yang kita alami pasti tak bias lepas dari anugerah dan nikmatNya.

Allah swt berfirman dalam Q.S Ibrahim ayat 7 yang artinya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Sebagai seorang muslim yang baik, tentunya setelah kita mendapatkan nikmat-nikmat itu kita tidak malah terlena dalam kondisi kesenangan kita. Namun mari kita giatkan amal-amal kebaikan kita agar lebih meningkat ketimbang sebelumnya.  Ibaratnya syukur akan menjadi kunci untuk membuka kenikmatan-kenikmatan yang jauh lebih besar. Namun hakikatnya tetap syukur sebagai bentuk terimakasih dan penghambaan kita kepada Allah.

Demikian sedikit ulasan tentang makna yang terkandung dalam Q.S Al Maidah : 11. Harus kita akui kita sebagai manusia yang lemah tentunya hanyalah mendamba pertolongan dari satu-satunya dzat yang Maha Penolong, An Nashr. Allah SWT. Percayalah, Allah akan selalu ada saat kita membutuhkannya, asalkan kita selalu dekat denganNya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dekat denganNya karena hidupnya pasti akan dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan karena Penolong yang sebenar-benar Penolong ada selalu di dekatnya, Allah SWT.

Wallahu A’lam Bishawab,

sumber: http://adityaphisca.blogspot.kr/2015/03/allah-sebenar-benarnya-nashr.html

PC IMM BSKM Gelar Reuni Kader dan Diskusi

IMG-20150317-WA0002

Yogyakarta – Menyambut milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ke-51 sekaligus milad cabang IMM Bulaksumur-Karangmalang (UGM dan UNY) ke-11, pada Ahad pagi (15/3) PC IMM BSKM menyelenggarakan acara reuni kader sekaligus diskusi bersama Bapak Immawan Wahyudi, Wakil Bupati Gunungkidul yang juga mantan Ketua Umum DPP IMM tahun 1985-1986. Bertempat di aula kantor PP Muhammadiyah jl. Cik Ditiro Yogyakarta, acara ini dihadiri oleh alumni IMM BSKM lintas generasi, perwakilan DPD IMM DIY, serta kader aktif IMM di BSKM.

FB_IMG_1426630389068JpegIMG-20150317-WA0000

Ketua Umum PC IMM BSKM, Faisal Isnan dalam sambutannya berpesan, “Dalam milad kali ini, kita maknai dengan sebuah refleksi untuk mengevaluasi capaian IMM selama ini, bukan sekadar seremonial semacam lomba-lomba. Selamat milad IMM ke-51 dan juga cabang IMM BSKM ke-11, semoga semakin jaya dan selalu memproduksi amal-amal saleh berlandaskan keimanan dan ketakwaan.” Kemudian di dalam acara diskusi yang bertemakan “Menakar Karakter Kader Muhammadiyah dalam Gerakan Pencerahan di Pemerintahan untuk Indonesia Berkemajuan” dengan dimoderatori oleh Taufiq AR (Ketua Umum PC IMM BSKM periode pertama), Bapak Immawan Wahyudi menyinggung soal semrawutnya negeri ini. Dalam berpolitik, beliau berprinsip bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan setidaknya yang perlu diperhatikan adalah persoalan retorika, dialektika, dan etika. Ketika ketiga aspek tersebut luput dari perhatian seorang pejabat publik, maka akan memunculkan berbagai persoalan di kemudian hari. Setelah acara diskusi, diumumkan pemenang lomba-lomba dalam semarak milad IMM ke-51 ini, seperti lomba hafalan juz 30, lomba fotografi, lomba menulis surat cinta untuk IMM, dan lomba badminton.

Fastabiqul Khairat!

(Faisal Isnan)

JpegJpegIMG-20150317-WA0001

Surat Cinta untuk IMM (2)

Yogyakarta, 11 Maret 2015

Dear IMM,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebelum kutanyakan kabar, aku ingin mengucapkan, Selamat Milad untuk IMM yang ke-51 dan PC IMM BSKM yang ke-11, semoga semakin memerahkan semangat para pejuang penegak dien Allah dan senantiasa menginspirasi dengan hati.

Seperti lazimnya surat pada umumnya, aku pun ingin menanyakan bagaimana kabar IMM. Jadi kutanyakan saja, “Apa kabar IMM?” Terasa ringan dan sangat biasa memang, namun menanyakan kabar IMM sama saja seperti menanyakan kabar diri sendiri. Lalu, bagaimana dengan kabar diri sendiri? Ah, terlalu kompleks kukira. Seperti gelombang, ada pasang surut, ada naik turun. Begitu pula diri ini yang baru kemarin sore nyemplung ke IMM. Ada banyak hal baru dan unik yang terjadi, tentang aku dan IMM. Tentu saja semuanya baik, hanya saja, setiap kebaikan pastilah akan muncul dengan cara yang berbeda-beda. Ada satu titik menyenangkan, ada satu titik tidak menyenangkan, ada satu titik ingin mengubah, ada satu titik hanya ingin diam saja, dan masih banyak lagi. Milad IMM dan PC IMM BSKM memberiku kesempatan untuk menguraikan satu dua hal tentang apa yang kupikirkan mengenai IMM.

Pertama kali mendengar istilah IMM adalah ketika aku berada di kelas tiga SMA. Nama IMM masih amat asing bagiku. Sedari kecil, aku tidak berada di lingkungan Muhammadiyah. Jadilah aku seorang yang tidak tahu apa-apa soal Muhammadiyah. Ketika memutuskan untuk kuliah di Jogja, kedua kakakku memberikan banyak pandangan mengenai kehidupan di Jogja, kehidupan kampus, kuliah dan organisasi, termasuk di dalamnya pergerakan mahasiswa. Entah terpengaruh atau bagaimana, aku pun sudah berencana untuk masuk ke IMM sejak SMA, meski bahkan sebenarnya aku tidak tahu apa itu IMM.

Hampir putus asa, itu yang aku rasakan ketika mencari IMM di kampus namun tidak kutemukan. Sejak mengurus registrasi hingga ospek, tak jua kutemukan IMM. Saat itu, aku belum paham perbedaan organisasi internal kampus dan eksternal kampus di universitas negeri, yang aku tahu, jika keduanya sama-sama organisasi mahasiswa, seharusnya keduanya sama-sama nongol di kampus ketika mahasiswa baru masih hilir mudik. Kalau organisasi daerah saja banyak yang tampil menggelar tikar seadanya dan dengan ramahnya mengajak para mahasiswa anyaran untuk mampir, lalu IMM dimana? Bendera merah itu menghilang kemana? Jangan-jangan kampus ini tidak punya IMM? Tapi kata kakakku, setiap kampus pasti punya. Lalu, mana IMM-nya kampusku ini? Mungkin memang aku yang tidak menemukan, atau memang IMM yang malu-malu untuk tampil di depan umum ketika registrasi mahasiswa? Entahlah.

Sebuah titik terang yang memberitahuku keberadaan IMM muncul di hari terakhir ospek ketika aku dan kawan-kawan berpamitan kepada pemandu ospek. Tiba giliranku berjabat tangan dengan pemandu gugusku, di situlah aku tahu bahwa IMM ‘ada’ di sini.

Waktu berjalan, dan sampailah aku menjadi salah satu bagian dari panitia baksos Idul Adha di Gunung Kidul tahun 2013 lalu. Hal yang membuatku senang berada di antara mereka: bersatu dalam perbedaan. Jujur, ada rasa sedih ketika mengetahui bahwa IMM di kampus ini terbagi menjadi dua komisariat. Itu artinya, aku tidak akan bertemu dengan orang-orang sebanyak ini lagi dalam sebuah rapat. Ternyata benar, ketika baksos selesai, kita kembali pada komisariat masing-masing. Lebih sepi, membuatku rindu kapan lagi ada acara yang melibatkan kedua komisariat.

Ketika sudah menjadi pengurus, semakin banyak hal yang kupelajari, tentu saja semakin banyak pula duri yang menancap. Aku mulai merasakan ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus di IMM. Pemikiran yang sedikit egois memang, karena aku begitu menyukai dunia kepenulisan dan diskusi, dan aku tak menemukannya di IMM, perlahan aku merasakan ada yang kurang di sini. Bagiku, IMM sama saja seperti organisasi internal kampus, mengerjakan proker, mencapai target ini itu, dan jarang sekali kutemukan pengembangan intelektual di sini kecuali sedikit. Ketika aku tahu mengenai trilogi yang diusung IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, maka aku masih mencari satu dari tiga hal yang seharusnya ada di IMM. Memang, aku sadar bahwa IMM di kampus negeri tidak akan sama dengan IMM di kampus Muhammadiyah maupun kampus Islam negeri. Namun, bukankah seharusnya itu menjadi lecutan bagi IMM di kampus negeri untuk mengembangkan diri? Jika dosen di kelas selalu menjadikan kita berjiwa kompetitif dalam hal akademik, mengapa organisasi yang terjun langsung ke masyarakat justru tidak menjadikan kita berjiwa kompetitif di luar sana? Jika kemudian banyak yang memilih aktif di organisasi internal kampus daripada IMM, itu adalah hal yang wajar. Organisasi internal kampus mendidik kita untuk memiliki jiwa kompetitif, menjadikan kekurangan yang kita punya sebagai bahan renungan dan pencapaian organisasi internal lainnya membuat kita berpikir, Ah ya! organisasi kita harus bisa lebih baik dari mereka walaupun kita terbatas dalam hal ini dan itu…. Nah, bagimana dengan IMM? Bukankah daripada berjuang untuk menjadikan IMM lebih baik di kampus negeri, kita lebih memilih untuk berpikir “IMM di kampus negeri ya memang seperti ini..”?

Pernah suatu ketika aku mempertanyakan kenapa di IMM harus ada aspek intelektual? Jawaban yang kudapat sederhana: karena kita mahasiswa. Ah, namanya saja sudah IMM, Ikatan MAHASISWA Muhammadiyah, tentu saja yang ada di dalamnya adalah mahasiswa, kaum intelektual kalau orang bilang. Kalau hanya diartikan demikian, berarti intelektual hanya sekedar nama? Kalau dijadikan realita, buktinya belum banyak. Diskusi susah, membaca susah, menulis apalagi. Peka terhadap sosial memang tinggi, tapi untuk duduk bersama, berdiskusi, banyak membaca dan menuliskannya, menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Aksi intelektual bukan hanya soal titel mahasiswa yang menempel di kepanjangan IMM kan? Aksi intelektual bukan hanya soal IPK kader IMM kan? Bukankah aksi intelektual bisa dengan cara yang sederhana? Senang berdiskusi, membaca, dan menulis? Mari berbenah, meskipun kecil, namun biarkan yang kecil itu hidup, lama-lama, setiap kehidupan yang dihidupi akan tumbuh dan berkembang. Termasuk soal intelektualnya.

IMM banyak membuatku belajar, ada senang, ada sedih, ada rasa capek, ada rasa hambar, ada motivasi, ada yang membuat semangat up and down, dan masih banyak lagi. Baru kemarin sore aku nyemplung di IMM, namun pelajaran yang diberikan sungguh luar biasa. Semoga ke depan, semakin banyak pelajaran yang bisa kupetik dari sini.

Sekali lagi, selamat milad IMM dan PC IMM BSKM, semoga kadernya semakin banyak, karena banyak sedikitnya kader mempengaruhi semangat untuk berkiprah di IMM. Salam Faskho!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Vega Inria Resmi

Sekretaris Bidang Hikmah PK IMM AR. Sutan Mansur UNY

Bukannya Muluk

Ada senyum di ujung pintu sana

Menyampaikan rasa, duka bersanding bahagia

Langkah kaki mulai terseok

Mungkin ia akan terhenti

Sebentar lagi

Terdengar makin berat

Pelan, dan tak bertenaga

Namun sayap sayap malaikat seakan beri pengharapan

Akan sakitnya perjuangan

Dan akhir yang terlihat sama

Ini bukan tempat untuk berdebat

Ini waktunya tuk berdiri rapat

Berjabat dengan perbedaan dan harap

Mencandu letih

Mencumbu semu

Bergumul dengan gamang pergerakan

Jangan bilang sudah

Mahasiswa pemikir selalu gundah

Meski tertatih tapak langkahnya

Ia ada untuk semua

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mungkin berisi orang-orang pintar, namun pintar saja tidaklah cukup, ia harus cerdas. Cerdas untuk mengerti bagaimana menghargai, cerdas untuk mengambil tindakan sesuai dengan berbagai sudut pandang dan apa yang sebenarnya sedang dihadapi.

Mahasiswa terlalu banyak tuntutan. Ya. Karena ia dipercaya oleh masyarakat untuk pimpin pergerakan. Bukan terlena oleh nostalgia, realistis berarti sesuai dengan realita, mahasiswa masih diberi pengharapan yang sama, untuk bergerak, menghirup udara ideologi yang murni, dan mengkritisi segala bentuk ketidak-adilan di negeri ini.

Mahasiswa terlalu muluk mengkritisi. Ya. Karena mahasiswa masih punya ruang gerak untuk itu. Mereka kritis, mereka berfikir, mereka berusaha beri opsi untuk solusi. Aspirasi bukan sembarang teriak lantang, tapi berfikir dengan matang. Mahasiswa bukan makhluk aneh lagi untuk berdiri di depan. Ia punya tempat, dan ia dituntut untuk sigap dalam bersikap.

Mahasiswa Muhammadiyah punya apa?

Ia punya ideologi yang satu langkah di depan, ia punya dasar yang satu jengkal lebih maju, ia punya naungan organisasi bersejarah di negeri ini. Bangga? Tidak. Tidak jika Mahasiswa Muhammadiyah masih berdiri di posisi yang sama dengan yang lain.

Jika berdiri saja susah, bagaimana mau berada di depan?

Tidak, Mahasiswa Muhammadiyah tidak susah berdiri, ia bisa berjalan bahkan hanya dengan segelintir kepala berkualitas di dalamnya. Kuantitas tidak tentukan kualitas. Meski bagaimanapun kita harus perhatikan penerus pergerakan, orang-orang yang mau bergerak tidak pernah kalah, meski kadang harus bersabar dengan birokrasi yang lebih besar.

Hei, Mahasiswa Muhammadiyah, mari buka mata dan hati untuk mengerti segala gejala ini, kita bukannya tuli atau mati, bukannya muluk atau buluk, kita realistis, tetap logis, tapi jadilah cerdas dalam berfikir dan bertindak. Sampaikan hal baik dengan cara baik, meski sering terbentur sana sini, percayalah tidak ada usaha yang sia-sia. Jadilah pergerakan yang baik dan senantiasa tegar.

Dida, 12 Maret 2015

Surat Cinta untuk IMM

            Yogyakarta, 12 Maret 2014

Untukmu, para pejuang dakwah ..

Untukmu, para pemikir nasib dunia ..

Salam,

Semoga ukhuwah kita tetap terjaga dalam salam. Doa keselamatan, doa kesejahteraan.

Apa kabar kau, wahai penerus bangsa?

Apa kabar kau, wahai tonggak agama?

Kuharap kau tetap sempurna berdiri tegak disana, agar tetap siaga menatap fakta dunia.

Wahai kau yang disana, bolehkah aku bercerita?

Terkadang aku berfikir, khayalku jauh melintasi waktu. Mencoba menjelmakan kisah perjuangan dalam benak. Namun fikirku tak sampai, kawan.. Aku tak sanggup. Kisah itu bur, kisah itu terlalu fiktif dimainkan dalam otakku. Maka ku memohon padamu, maukah kau menceritakannya untuk ku?

Kisah perjuangan pilu dalam mempertahankan agama dan bangsa. Romantisme rumit dalam kasih sayang seorang guru sebagai hamba Tuhan yang ingin kebenaran. Hingga terlahirlah kita dalam persatuan ukhuwah cucu-cucunya. Dapatkah kau menjaikan itu dongeng untukku? Agar aku dapat merasa, agar aku dapat menangis, dan agar aku dapat tersenyum setelh kau beri tahu ku tentang kejayaan titipan dan amanah kakek kita.

Wahai kau yang membaca, bolehkah aku bertanya?

Apakah kau pernah mencoba mengurai masalah nasib agama? Dan mungkin nasib bangsa yang menampung kaum kita. Aduh, salahkah aku menggunakan kata kaum? Atau, sebutan apa yang pantas untuk kita? Golongankah? Bukan juga. Oh wahai.. Aku hanyalah cucu yang bodoh akan ideologi dan sejarah. Namun aku memiliki satu haraan, kawan.. Harapan akan cerahnya agama Tuhan dan kehidupan bangsa.. Begitu pula kah engkau memikirkannya? Sama kah kau denganku??? Atau justru kau lupa memikirkannya? Atau lagi, kau malah sudah menemukan solusinya? Beri tahu aku!

Hem, susah sekali hidup ini. Atau hanya kita saja yang membuatnya susah? Seolah-olah berfikir untuk bangsa dan agama. Muluk-muluk berfikir nasib dan apa jadinya. Banyak orang mencerca, usaha kita sia-sia. Usaha kita tak akan ada hasilnya.

Manakah yang harus kudengar, kawan? Aku mual mendengar ocehan layaknya beo yang berlatih. Aku muak menanggapi orang-orang yang tak tahu dan hanya sok tahu. Aku lelah …

Tuggu!

Lelah?

Lelah, aku bilang? Huh, pecundang sekali aku. Kalah dengan nasib dan keadaan. Kalah dengan kalian para pejuang masa depan. Belum banyak aku berfikir untuk maslahat umat, sudah menyerah mengerdil karena masalah-masalah kecil. Tak urung ku bayangkan betapa berat perjuangan kakek kita dahulu. Bagaimana beliau melawan kejahiliyahan yang melanda, bahkan mengakar menjadi dasar budaya. Demi agama, demi tauhid dan tajdid yang sempurna..

Kawan ..

Bolehkah aku memanggilmu kakak? Agar ukhuwah kita makin erat, dan ikatan kita makin sempurna.

Kakak ..

Tolong biarkan fikirku berkelana. Merambah setiap detil sudut sejarah ataupun sudut masa depan sebagai khayal yang tak terjangkau. Izinkan aku banyak meraba dalam setiap pejaman mata, perjuangan dan keikhlasan para tetua. Mohonkan aku akan ilmu yang telah kalian serap dan kalian amalkan. Dan tolong bimbing aku menemukan sau titil pencerahan.. Agar dapat berjalan sesuai agama; agar dapat dapat memahami hidup berbangsa dan bermasyarakat. Agar aku dapat memaknai hidup, memisahkan yang haq dan yang batil ..

Kakak ..

Sering ku terduduk, menunggu keajaiban. Menanti akankah aku dapat melihat sebuah bentuk perjuangan. Sebuah perjuangan yang sering disepelekan. Yang sering kuragukan hakikatnya. Namun perjuangan itu pula yang sering meneguhkan hatiku untuk berkata dan meneruskan sebuah niat suci untuk agama dan bangsa. Aku rindu kakekku. Aku rindu kakek kita. Aku rindu pesan tak sampai yang berwujud makna ke hati kita. Oh wahai, bagaimana dia bisa melakukannya? Berjuang sendiri menegakkan agama Tauhid yang satu. Dan menyampaikan pesan-pesan indah ke dalam lubuk hati penerus bangsa.

Kakak ..

Tiga halaman sudah ku tuliskan apa yang menjadi rindu ku terhadap agama. Apa yang menjadi harapanku terhadap bangsa. Dan rinduku terhadap perjuangan yang menjadi amanah berantai bagi kita. Bagi generasi setelah kita, juga bagi generasi seterusnya hingga agama benar-benar murni ada dijalanNya, dan bangsa benar-benar terbebas dari orang-orang yang munafik mengatas namakan-Nya.

Semoga untaianku bukanlah hal yang sia-sia. Semoga celotehku bukanlah bermakna ada-ada. Hanya ku sampaikan segala rasa dan cita pada lembar tak ternoda, hingga akhirnya terlukis berbagai keluh kesah abstrak yang lama menumpuk di benak.

Kakak ..

Tak ada hal lain selain mengharap bimbingan untuk kejayaan agama dan bangsa. Kuharap kita akan terus dapat mengamalkan niat suci mengabdi pada negri. Mengabdi pada millah tauhid lillah. Kita berjihad menegakkan kebenaran dan kesucian setiap pemikiran. Dan kita menyeru pada kemenangan abadi yang terbalas di surga nanti ..

Semoga ukhuwah kita tak berhenti sampai disini, hingga satu sama lain bisa saling melengkapi. Membekali iman dan membulatkan tekad serta menebalkan taqwa. Menjadikannya sebuah aksi nyata, untuk masa depan Islam, dan Indonesia.

Salam Jihad Fillah, wa Lillah,

Seorang perintis iman, pengharap kemenangan,

Mayzhyang Taxasyna

SEBUAH SURAT UNTUK SEBUAH KELUARGA

Yogyakarta, 10 Maret 2015

Kepada sebuah keluarga

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Di tanah yang semoga selalu Allah berkahi

Assalamu’alaikum wr.wb.

Saat aku menuliskan catatan ini, waktu sedang tiba di malam hari dan hujan sedang deras membasahi bumi. Keadaan dingin ini membuat orang enggan beraktivitas; namun aku berbeda. Aku harus tetap bergerak, apalagi untuk menuliskan catatan kepada salah satu kepingan cintaku. Catatan yang (mungkin) penting.

Bagaimana kabarmu, IMM? Hampir setiap hari aku bersama denganmu, namun aku selalu lupa menanyakan kabar. Maafkan aku. Kau (IMM) dan aku sama-sama sibuk, sehingga akhirnya kita jarang untuk saling bersapa dan memahami keadaan diri kita. Aku harap kabar IMM selalu baik dan tetap semangat untuk memperjuangkan visinya.

Maaf jika tiba-tiba aku berbicara dengan gaya formal. Namun kurasa, jika tak kuungkapkan, hal ini akan selalu menjadi ganjalan.

IMM,

Pernahkah kau bertanya mengapa aku masuk dan bersama dalam ikatanmu? Pernahkah kau penasaran dengan motivasiku untuk berjuang denganmu? Jika kau menebak, jangan mengira bahwa aku masuk di IMM karena aku mencari popularitas, sekedar mencari relasi atau hanya sekedar menghilangkan status ‘kupu-kupu’ (kuliah pulang-kuliah pulang).

Dua alasan logis yang bisa kusampaikan; bahwa IMM adalah dua elemen bagiku, yaitu keluarga dan perjuangan. Keluarga yang (selalu) mengobatiku saat terluka dan menemani saat tertawa bersama, dan perjuanganku dalam mensukseskan dakwah Muhammadiyah di hidup dan lingkunganku, terutama kampus. Kedua alasan yang selalu kutekankan dan kujalani… dan akhirnya kau tahu, IMM?

Alasan itu berkembang, tak berhenti disana saja. Hingga sampai pada titik saat aku sulit untuk menemukan kata untuk menguraikannya. Mungkin…ini cinta.

Ya, cinta. Suatu hal yang datang tanpa pernah butuh kepastian uraian. Cinta adalah hal yang luhur yang dimiliki setiap orang. Aku kehilangan kata saat harus kujelaskan mengapa aku sangat menyenangi IMM; jauh berbeda dengan organisasi lain. IMM telah membuatku menemukan ‘ruh’ku yang lama terkubur. IMM telah membuatku bisa bertemu dengan orang-orang yang akhirnya kuanggap keluarga. IMM telah membuatku merasa menjadi orang yang dibutuhkan. Intinya, IMM telah membantuku menemukan ‘barang-barangku yang hilang dan terkubur’.

IMM, aku harap kau jangan terbang melayang karena tahu bahwa aku sangat berterima kasih padamu dan sangat menyenangimu. He he he.. J . Dan aku rasa, bukan hanya aku saja yang merasakan hal ini. Banyak orang yang merasakan hal yang sama denganku, sehingga keberadaanmu (IMM,) sangat penting buat kami.

Namun, apakah kau tahu, kawanku IMM? Cinta tak selamanya bisa tetap cinta. Di balik cinta yang selalu dianggap luhur dan tetap, ia juga menuntut bukti. Orang bilang, cinta tak pernah meminta alasan tapi ia butuh balasan. Itu juga yang terjadi dengan sebuah cinta yang kuberikan untuk keluarga IMM ini. Ini bukan pasal pamrih, tapi ini adalah sebuah sunnatullah jika cinta ingin tetap menjadi cinta.

Aku selalu senang bisa mencintai dan masuk dalam keluarga IMM ini, namun di sisi lain banyak bukti yang tak bisa aku terima. Ketika aku mencoba dengan bekal kesetiaan dan ketulusan yang kumiliki, secara tidak langsung (mungkin) IMM sering membuat kesetiaan itu terus bersembunyi dan terkubur dalam keraguan. Ada beberapa hal yang sering membuatku lelah untuk mencintaimu.

Satu hal yang sering membuatku merasa goyah dengan cintaku adalah masalah perjuangan kita tentang trilogi. IMM punya tiga trilogi yang harus diperjuangkan: Intelektual, Humanis, Religius. Namun, menurutku, sampai saat ini gerak IMM belum maksimal untuk mewujudkan tiga hal itu. Gerak IMM hingga saat ini hanya sekedar memenuhi formalitas kepengurusan, bukan totalitas.

Program kerja memang sudah berorientasi untuk mewujudkan trilogi, namun geraknya lebih terasa seperti formalitas; bukan sebuah perwujudan idealitas. Atau… ini hanya perasaanku sajakah? Dan ada yang lebih parah. Program kerja yang disusun, akhirnya hanya menjadi wacana, wacana dan wacana. Sebatas wacana dan aktualisasi trilogi tidak ada. Kalau aku boleh bilang kasar: KETERLALUAN.

Kalau seperti ini, lalu apa beda kita dengan organisasi internal atau eksternal lain; kalau kita tidak bisa mewujudkan trilogi kita dengan baik? Aku masih ingat saat aku pertama kali masuk IMM, ditekankan bahwa IMM bukan hanya sebuah organisasi, namun PERGERAKAN. Yang kupahami, pergerakan selalu bergerak. Pergerakan selalu membawa ideologi untuk perubahan masyarakat. Pergerakan bukan hanya berisi program kerja, tapi mengandung perjuangan dalam membangun perubahan berarti di masyarakat.

Kalau trilogi hanya berjalan sebatas program kerja atau wacana, kita sama saja dengan organisasi lain. Bahkan (akan mungkin) lebih baik organisasi lain. Padahal hakikatnya, kita punya ciri khusus. Kita adalah bagian dari pergerakan Muhammadiyah yang memperjuangkan ideologi dan visinya. Artinya, sebenarnya kita bukan hanya bergerak untuk program kerja, tapi bergerak untuk mewujudkan trilogi IMM di lingkungan mahasiswa, terutama mahasiswa Muhammadiyah di kampus.

Dan kemudian, masalah aktualisasi trilogi ini dapat berdampak pada aktivitas dan elemen-elemen lain di IMM. Karena itu, masalah ini perlu segera dipecahkan dan diperbaiki. Apakah bisa kau memperbaikinya IMM? Kau tahu IMM, alasanku di IMM salah satunya karena ini adalah berjuang dengan Muhammadiyah. Kalau selalu begini, aku akan sulit untuk mempertahankan cintaku. Mungkin bukan hanya aku, tapi juga (mungkin) ada orang yang merasa seperti diriku.

Maafkan aku jika aku terlalu menuntut lebih padamu. Aku adalah sosok idealis jika sudah berkaitan dengan Muhammadiyah. Aku tak berharap IMM di Yogyakarta, terutama PK IMM di cabang IMM BSKM bisa menjadi seperti IMM di PTM-PTM. Tapi paling tidak, kita punya perasaan untuk selalu memperjuangkan Islam secara umumnya dan Muhammadiyah secara khususnya; di lingkungan kampus.

Maafkan aku jika uneg-uneg yang kusampaikan akan menuai banyak ketidak cocokan. Ini hanya sebatas pandanganku. Paling tidak, ini menjadi bahan refleksi untuk IMM. IMM, kau harus selalu berintrospeksi. Kau memiliki banyak orang dan teman disini. Saat kau kehilangan ‘ruh’, akan muncul kemungkinan bahwa orang dan teman tersebut akan pergi atau sebatas menganggapmu sebagai formalitas organisasi.

Masalah-masalah yang kau hadapi, IMM, hadapilah dengan semangat dan keikhlasan. Jangan pernah ragu untuk mengatasi masaslah itu. Ada aku disini yang siap membantu.

Aku memang ragu untuk setia jika IMM terus begini, tapi selama aku masih bersamamu di jalan perjuangan ini, aku akan selalu membantu dan men-support-mu dengan sungguh-sungguh. Selama kita masih bersama di jalan ini, aku dan kamu akan tetap selalu bergandengan tangan; menempuh rintangan bersama dan menikmati tawa bersama. Gerak keras, Gerak cerdas dan Gerak ikhlas.

Aku pernah mendapatkan kata mutiara dari temanku. Semoga dengan ini, langkah perjuangan IMM semakin mantap dan nyata,

“Jalani hidup kita seperti jalm dinding.

Dilihat orang atau tidak ia tetap berdenting, Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar, Walau tak seorangpun mengucapkan terimakasih ia tetap bekerja.”

 Ingat, cinta ini tak butuh alasan … tapi balasan. Bukti nyata! Ok, IMM?

IMM, semangat Faskho!

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Dari:

Seseorang yang mencintaimu,

Aniez Tuing EZanefa

Teruntuk Merah*

 Oleh Ivah Rahma Romadhona

Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PK IMM A.R. Sutan Mansur UNY

Hampir saja kutulis “dengan datangnya surat ini” pada awal kalimat, ah seperti aku baru mengenalmu saja. Atau “apa kabar?”, setega itukah aku hingga benar-benar tak mengetahui kabarmu. Atau mungkin “lama tak jumpa!”, apakah aku telah benar-benar meninggalkanmu? Ah! Betapa sulit aku menentukan sikap di hadapanmu.

Tak banyak orang yang tahu tentangmu. Kurasa di sini begitu. Mungkin karena ada nama Ayah di belakangmu, baru orang-orang agak mengetahui. Sekedar berkata, “oh” mungkin, lalu berlalu tanpa peduli lagi. Atau malah mengernyitkan dahi dan memilih menjauhi. Itu hanya karena mereka belum mengenalimu dan Ayah tentunya. Pernah ku menduga kalau mereka apatis, tapi tak lantas aku menuduh sebelum bertanya “memangnya aku pernah mengenalkanmu pada mereka?”.

Aku pernah menangis ketika melihatmu tampak lusuh, menyesali belum banyak hal yang kulakukan untukmu selama ini. Tapi ratusan kali aku menangis pun tak kan pernah bisa menguatkanmu. Kalau itu hanya berupa tangisan yang menyesakkan malam, kukira sudahlah tak usah diperpanjang. Namun mencintaimu juga tak cukup hanya membawamu ke mana-mana, sehingga mereka berkata, “Oh, itu Merah.” Mencintaimu juga tak cukup dengan koaran “aku mengenal Merah, aku bersamanya setiap hari”. Tanpa tahu siapa kau dan mengapa kau ada di sini, dan untuk apa mereka melihat kita bersama.

Tiga hati yang kau pegang erat, pernah ku lihat salah satu dari mereka memudar. Kalau dibiarkan terlalu lama akan makin mengenaskan. Dan aku akan semakin heran pada diriku sendiri. Apa saja yang kulakukan? Harusnya aku menjaga agar hatimu tak memudar walau hanya separuh. Mengapa justru aku yang membuatmu semakin rapuh? Padahal aku yang mengaku selalu bersamamu, menyatakan bahwa aku mencintaimu, dan membangga-banggakanmu pada mereka di luar sana. Tapi justru aku yang tanpa sadar menyakitimu.

Maaf Merah, mungkin kau kecewa denganku karena aku tak bisa memastikan banyak hal untukmu. Tapi dapat kupastikan kedatangan surat ini bukan untuk memutuskan hubungan kita. Aku masih tetap bersamamu. Walau aku bukanlah orang yang paling hebat, aku akan berusaha membuatmu tetap menjadi Merah dengan tiga hati yang utuh.

Terima kasih telah menjadi Merah dalam setiap semangat kebaikan yang menyungging senyum setiap orang. Banyak kisah yang tak mungkin kulupakan saat kita bersama.

Salam Fastabiqul Khairat

dari Seseorang

*Pemenang lomba menulis surat cinta untuk IMM dalam serangkaian lomba penyambutan milad IMM ke-51 dan milad cabang BSKM ke-11

Milad IMM Ke-51: Otokritik dan Harapan untuk IMM BSKM

Oleh Faisal Isnan, S.Pd.

Ketua Umum PC IMM BSKM

51 tahun yang lalu, tepat pada 14 Maret 1964,  Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir dari rahim Muhammadiyah, organisasi modernis yang memiliki semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Kelahiran yang saat itu sangat dinanti sebagai upaya ikut serta dalam mewujudkan tujuan Muhammadiyah, maka sudah selayaknya perlu ditagih janjinya sebagai organisasi yang memiliki ranah gerak di keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Pasang surut pernah dialami oleh IMM, jalan terjal dan berbagai rintangan juga telah dirasakan dari berbagai tingkatan, mulai dari pimpinan pusat sampai pimpinan komisariat. Agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa IMM pada masa kini mengalami proses pendewasaan diri. Terbukti dengan sudah adanya berbagai prestasi, kemudian masuknya kader IMM dalam berbagai lini, baik itu di sektor birokrasi pemerintahan, keagamaan, pendidikan, politik, pengusaha, maupun sektor-sektor lain. Warna merah yang melekat pada IMM membuktikan bahwa IMM adalah alat perjuangan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

10686841_10204278345015933_2803284986737056343_n

Pada tahun 2004 yang lalu, dua pimpinan komisariat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bersepakat mendeklarasikan diri membentuk cabang baru di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan tempat kedudukan kedua universitas negeri tersebut, maka cabang baru tersebut dinamakan dengan Pimpinan Cabang IMM Bulaksumur-Karangmalang atau lebih akrab disebut dengan PC IMM BSKM. Cabang BSKM ini pertama kali diketuai oleh IMMawan Taufik AR dari UGM. Selama 11 tahun ini, PC IMM BSKM telah mengalami berbagai dinamika, baik itu yang bersinggungan langsung dengan eksternal maupun internal. Regenerasi di BSKM telah silih berganti, namun tujuan masih tetap sama. Setiap generasi memiliki cerita tersendiri, seperti yang penulis alami, dinamika di BSKM justru muncul dari internal. BSKM merupakan IMM yang menaungi IMM PTN terbesar di Yogyakarta, yaitu UGM dan UNY. Tantangan pun tidak sama dengan yang dirasakan oleh IMM di PTM, karena posisi IMM di PTN merupakan organisasi eksternal kampus yang tidak diakui oleh kampus. Seharusnya hal semacam ini tidak dijadikan alasan bagi setiap kader IMM BSKM, karena saat kita mengikrarkan diri menjadi bagian IMM, artinya kita sudah siap berjuang dengan segala konsekuensinya. Dengan keadaan seperti ini, juga ditambah dengan pimpinan yang kurang bisa mengayomi kader baru dan menjadi contoh. Persoalan kader kurang aktif, minim program kerja sehingga memberi dampak pada kader yang akan dibina akhirnya lepas karena IMM belum bisa dijadikan sarana berjuang dan berdakwah.

10915352_10204704853838387_3422913682092615732_n

Harapan untuk IMM BSKM

IMMawan Fadel, Ketua Umum PK IMM Ibnu Khaldun UGM dalam pesan singkatnya mengungkapkan, “Saya termasuk bagian dari orang-orang yang beruntung. Di mana IMM telah mengajarkan saya banyak hal. Aktivitas intelektual, pendalaman religiusitas, dan aktualisasi humanitas saya dapatkan di dalam IMM. Semoga dengan semakin dewasanya usia IMM, kader IMM semakin bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan semoga kita senantiasa mendapat ridha-Nya di setiap ikhtiar kita. Jaya IMM!” IMMawan Calits, Ketua Umum PK IMM KH. Ahmad Badawi UNY juga dalam pesan singkat mengungkapkan, “Personil cabang harus meningkatkan perbaikan karakter agar menjadi contoh bahkan menjadi idola bagi kader yang di komisariat. Selamat milad buat cabang IMM BSKM, semoga semakin bertambahnya usia, juga semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas kader IMM BSKM. Semoga ke depannya tetap berdiri kokoh menjunjung trilogi IMM.” IMMawan Yusuf, Ketua Umum PK IMM Al Khawarizmi UGM juga mendoakan, “ IMM BSKM di usia yang ke-11 semoga dapat tetap istiqomah. Terus berkarya untuk umat dan dapat menjadi kebanggaan persyarikatan.”

Dalam merefleksikan cita-citanya, IMM mau tidak mau harus berbenah diri jika tidak ingin terseret oleh arus pragmatisme gerakan yang begitu deras. Tantangan yang dialami setiap generasi pastinya akan berbeda. Namun, sebagai gerakan mahasiswa, IMM harus menunjukkan jati diri sebagai “guiding moral” di tengah masyarakat yang sedang buta arah. Di era yang serba pragmatis ini, semua orang berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan, kedudukan, dan harta. IMM harus menempatkan diri sebagai garda terdepan dalam melakukan transformasi sosial dan berperan sebagai fungsi etik. Dalam mencapai semua itu, IMM melalui kegiatan-kegiatannya haruslah bersifat pembinaan dan pemberdayaan, bukan lagi pada urusan menggugurkan kewajiban melaksanakan program kerja atau sekadar memajang nama sebagai pimpinan.

Setidaknya ada empat hal yang perlu direfleksikan oleh IMM, terutama di cabang BSKM. Pertama, IMM BSKM perlu membuat formula “khusus” dalam sistem perkaderan. Mengingat kedudukan IMM di BSKM adalah sebagai organisasi eksternal kampus, maka IMM BSKM perlu menyesuaikan diri dan mencari formula yang tepat dalam agenda penjaringan, penjagaan, serta pemberdayaan kader. kedua, IMM BSKM perlu mewacanakan gerakan mahasiswa dengan berbasis penelitian dan kajian yang mendalam tentang berbagai hal. Hal-hal yang perlu dikaji IMM seperti tata kelola kota di Yogyakarta yang tidak mengedepankan fungsi dan tempat yang sesuai sehingga masyarakat yang merasakan dampaknya. Ketiga, IMM BSKM menjadi “role model” IMM PTN di Indonesia. Karena sudah terbukti para pendahulu IMM BSKM sudah mencontohkan sepak terjangnya dalam mengkonsolidasikan gerakan mahasiswa se-DIY dalam mengawal berbagai isu nasional maupun regional. Buah dari perjuangan IMM BSKM dapat kita jumpai pada beberapa alumni yang sukses dalam karir, baik itu dalam pemerintahan, pendidikan, wirausaha, dsb. Keempat, seluruh kader IMM BSKM harus memiliki tekad menjadikan IMM sebagai sarana memproduksi amal-amal saleh melalui kegiatan yang berlandaskan keimanan seperti aktualisasi dakwah, menghidupkan, dan memakmurkan masjid sebagai basis gerakan IMM, serta melakukan pembinaan masyarakat yang memerlukan bantuan. Terbukti, IMM BSKM dipasrahi dua masjid Al Ikhlas di Karangmalang dan masjid Al Muttaqin di Tawangsari untuk dijadikan laboratoruim dakwah bagi IMM UGM dan UNY.

Hal-hal yang tidak akan pernah saya lupakan bahwa IMM mengajarkan saya tentang keikhlasan, kerja keras, dan bersaudara. Selamat milad IMM ke-51 dan juga cabang IMM BSKM ke-11, semoga semakin jaya, teruslah mencetak kader persyarikatan, umat, dan bangsa demi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Semoga kader-kader IMM di seluruh penjuru tanah air dapat istiqomah dan berjuang dengan penuh keikhlasan dalam ber-IMM. Abadi Perjuangan!

Fastabiqul Khairat!